Di
tengah padang rerumputan hijau tinggallah seekor Semut. Ia terlepas dari
kawanannya saat terjadi angin besar memporak-porandakan desanya. Sekarang ia hidup
sebatangkara. Semut itu tak memiliki orangtua, saudara bahkan teman. Namun
siang itu, ia kedatangan seekor serangga yang jauh lebih besar darinya, seekor Kecoa. Kecoa itu sangat malang. Sayapnya rusak dan kaki belakangnya patah karena mencoba melarikan
diri dari mangsa.
Semut
merasa kasian kepada pak Kecoa. Ia menyuruh pak Kecoa untuk tinggal dirumahnya.
Setelah pertemuan itu, mereka menjadi sahabat, selalu bersama dan saling
membantu. Hingga pada suatu hari, mereka berencana untuk melakukan sebuah
petualangan.
“Aku
pernah dengar katanya di sebelah barat sana ada desa yang sangat indah. Setiap
malam para serangga berkumpul dan mengadakan festival serangga” Kata pak Kecoa.
“Tapi
untuk kesana kita harus melewati Laba-laba raksasa dan sungai yang arusnya
sangat deras. Apa pak Kecoa tidak takut ?” tanya Semut.
“Tentu
tidak, kita sebagai pejantan harus selalu berani.” Sahut pak Kecoa.
“Baiklah..
besok kita berangkat ! ” teriak Semut kegirangan.
- - -
Keesokan
harinya saat ayam jago mulai berkokok. Pak Kecoa dan Semut sudah bersiap.
Mereka menyusuri padang rumput, bukit batu dan jembatan kayu. Setelah lama berjalan, mereka berhenti
sejenak untuk istirahat. “Apa kau tidak apa-apa pak Kecoa dengan kaki seperti
itu? kau terlihat sangat kelelahan” tanya Semut.
“Itu
bukanlah halangan, walaupun tidak bisa terbang tapi aku masih bisa berjalan kaki,
kita harus tetap semangat dan tidak boleh putus asa serta terus bersyukur..
untung saja tuhan masih menyisakan kaki depan untukku.” jelas pak Kecoa.
Kemudian
mereka melanjutkan perjalanan dan sampai di depan sarang Laba-laba raksasa.
Sarang itu sangat besar. Sebelum menghadapi Laba-laba raksasa, Semut dan pak Kecoa
memutuskan untuk beristirahat dahulu. Pak Kecoa mencari tempat yang rindang dan
mereka mulai membuka bekal makan mereka. Setelah lelah hilang dan perut
kenyang, mereka mulai mendekati sarang Laba-laba itu.
“Laba-laba keluarlah !!” teriak pak Kecoa. “ Ada
apa ?? kau telah mengganggu tidurku.“ Laba-laba marah. “ Tolong bantu kami
menyebrang sungai itu.” Pinta pak Kecoa. Laba-laba pun tak semudah itu
memberikan bantuan. Ia akan mengabulkan permintaan mereka asalkan salah satu
dari mereka mau menjadi santapan makan siang Laba-laba raksasa. Semut dan pak Kecoa
pun mulai putus asa. Mereka tidak mungkin mengorbankan nyawa sahabatnya.
“
Kami adalah sahabat, kami tak mau salah satu dari kami mati. “ teriak pak Kecoa.
“
Bagaimana jika kami berdua mencarikan serangga yang sangat besar untukmu. “
kata Semut.
Pak
Kecoa bingung dengan ucapan Semut. Laba-laba raksasa yang sudah kelaparan
menyetujui pendapat Semut. “ Itu ide bagus. baiklah, sekarang cepat kau carikan
!!”
- - -
Semut
dan Kecoa bingung,apakah ada serangga yang mau menjadi santapan Laba-laba?
Tentu tidak ada. “Pak Kecoa, apakah boleh kita berbohong disaat seperti
ini?”tanya Semut. “Seharusnya kita tidak boleh berbohong karna berbohong itu
dosa, tapi apakah kamu punya ide bagus ??” tanya pak Kecoa.
Semut
menceritakan idenya ke pak Kecoa. Pak Kecoa setuju dengan ide Semut, mereka
mulai mencari rumput kering dan membungkusnya dengan daun kering serta
merapikannya agar Laba-laba tak curiga. Mereka akan memberikan bungkusan itu ke
Laba-laba dan bilang bahwa itu adalah serangga yang mereka buru. “Kau adalah Semut
yang cerdik.”
Semut
dan pak Kecoa segera menghampiri Laba-laba besar yang sudah menanti kedatangan
mereka.
“Wah..
cepat sekali kalian sudah datang? aku ingin segera menyantapnya..” kata Laba-laba.
“Maaf
Laba-laba, bisakah kau mengabulkan permintaanku sekarang, dan makanlah serangga
ini nanti, Agar nanti kau bisa makan dengan tenang.” Kata Semut.
“Kau
memang pintar, baiklah cepat sebutkan permintaan kalian!!” kata Laba-laba.
“Tolong
buatkan jembatan untuk kami menyebrang sungai !” ucap pak Kecoa.
“Itu
sangat mudah, aku akan membuatkannya untuk kalian.”
Laba-laba
mulai membuat sarang panjang sebagai jembatan yang terbuat dari anyaman benang
halus yang keluar dari tubuhnya. Laba-laba mondar-mandir diatas sungai untuk
memperkuat jembatan itu. Setelah Semut dan pak Kecoa menunggu lama, akhirnya
jembatan itu selesai.“ Sudah selesai!! Aku ingin makan sekarang. “ kata Laba-laba
yang terlihat kelelahan.
Pak
Kecoa dan Semut segera lari melintasi jembatan, sedangkan Laba-laba mulai
membuka bungkusan itu. “makan..makan..” Laba-laba sangat senang. Tapi ...
betapa terkejutnya Laba-laba setelah membuka bungkusan itu. Ia tak mendapati
serangga melainkan rumput kering. “Hey... kalian telah membohongiku !! Akan ku
makan kalian !!” teriak Laba-laba yang marah dan mengejar mereka. Pak Kecoa
sudah hampir di ujung jembatan, tapi Semut yang memiliki kaki kecil membuat
pendek langkahnya. Sedangkan Laba-laba sudah berada tak jauh dari Semut. Semut
mulai ketakutan. Pak Kecoa segera kembali dan menyuruh Semut naik ke
punggungnya. “Ayo cepatlah naik!!” Pak Kecoa lari sekuat tenaga dengan
terpincang-pincang.
Laba-laba
hanya berjarak beberapa langkah dari pak Kecoa. Pak Kecoa terus berlari hingga
mereka sampai di ujung. Semut segera turun dari punggung pak Kecoa dan memotong
jembatan itu dengan mulutnya yang tajam hingga jembatan itu putus dan Laba-laba
bergelantungan. “Laba-laba, tolong maafkan kami telah memanfaatkanmu dan
membohongimu !!” Teriak pak Kecoa dan Semut.
-
- -
Pak
Kecoa dan Semut terus berlari memasuki hutan. Dan sampailah mereka disebuah
desa yang dituju. Para serangga berkumpul di tanah lapang. Pak kecoa dan semut
disambut dengan baik oleh para serangga, dan festival serangga pun dimulai.
Kunang-kunang terbang kesana kemari. Belalang dan jangkrik melantunkan
bunyi-bunyian yang indah. Mereka menari-nari, bernyanyi dan tertawa bersama. Dan
tiap serangga akan mendapatkan satu cangkir madu yang diberikan oleh para
lebah.
“
Aku baru kali ini melihat kalian, kalian berasal dari mana ?”Tanya Belalang
“
Kami berasal dari desa di timur sana, diseberang sungai !!” Jawab pak Kecoa.
“
Itu sangat jauh teman, besok aku akan mengantarmu pulang !!” Pak Belalang
menawarkan diri.
Malam pun cepat berlalu. Keesokan
harinya Belalang bersiap untuk terbang mengantarkan pak Kecoa dan Semut pulang.
Kecoa dan Semut naik ke punggung Belalang dan terbang jauh. Mereka melintasi
sungai dan Semut melihat ke arah rumah Laba-laba. Ia merasa bersalah dengan apa
yang telah ia lakukan ke Laba-laba. “Belalang turunkan saja aku diseberang
sungai !!” Belalang pun mendarat tepat disamping rumah Laba-laba. Pak Kecoa pun
mengikuti Semut.
“Laba-laba
.. keluarlah !!” teriak Semut.
“Kalian
lagi ... akan ku makan kalian !!” Laba-laba masih dendam.
“Maafkan
kami!! kami kesini membawa madu.. cobalah madu ini!! Rasanya sangat manis, kau
pasti suka. Ini sebagai tanda permintaan maaf kami.” Ucap Semut.
Kemarahan
Laba-laba pun reda. Ia mencicipi madu itu sedikit demi sedikit. “waah.. ini
sungguh lezat. Aku suka ini!!” Semut dan Kecoa pun memberikan semua madu mereka
untuk Laba-laba. Laba-laba pun memaafkan Semut dan pak Kecoa. Mereka bertiga
pun menjadi sahabat baik dan akan sering datang ke festival serangga
bersama-sama.
- *END*-
Ps : Ini cerita yang
sangat sederhana yang ditulis sekitar sekitar 3 atau 4 tahun lalu… saat itu
ponakan ku tidur dirumah sini, dan yah.. sama seperti kebanyakan anak kecil
lainnya yang pingin didongengi sebelum tidur. Dengan keterbatasan dongeng anak
di otak, maka ngalirlah cerita ini.
Kalo fabel atau cerita anak
harus ada amanah atau nasehat. Yang ini mungkin berbeda. Hhehe Entah itu bisa
dibilang nasehat atau endak karena cerita yang bener-bener ngasal banget. yah
intinya menjaga hubungan baik sama sahabat aja sih .. saling tolong menolong,
saling memaafkan, dan ucapan makasih juga penting. Alah jadi sok wise deh !!
![]() |
| karena ceritanya tentang persabatan semut, kayaknya pict ini agak nyambung yaaa … gambar jaman bahela, nyontek dari cover buku |

Komentar
Posting Komentar