Langsung ke konten utama

Lalat Di Batang Hidung

Yep. Postingan kali ini spesial tentang si lalat a.k.a lalet a.k.a laler. Wews... cuma nulis aja badan udah geriming. Ingat dulu jaman kelas 5 / 6 MI, Pak Tris guru IPA ngajak nangkap lalat diluar kelas terus di mikroskop gituh. Ya Allah itu wajahnya si lalat masih ingat jelas sampe sekarang oey. Matanya gede, wajahnya penuh bulu Uuh gamau liat lebih lama. Hiiii

Kalo liat makanan dihinggapi lalet pasti nggak aku makan, atau aku buang sedikit yang bekas dihinggapi tadi. Kecuali kalo makananya yang aku suka banget, pasti mensugesti diri 'gapapa gapapa anggep aja tadi nggak dilalerin' hahahah ada yang gitu juga ?

Nabi saw bersabda :
“Jika ada seekor lalat yang terjatuh pada minuman kalian maka tenggelamkan, kemudian angkatlah (lalat itu dari minuman tersebut), karena pada satu sayapnya ada penyakit dan pada sayap lainnya terdapat obat.” (HR. Al Bukhari)

Tapi sekarang nggak semua orang melakukan itu keknya. Kecuali kalo dalam keadaan tedesak nggak ada air minum lagi. Hampir semua tentang lalat nggak aku suka sih. Daur hidup, tempat hidup, sampe suaranya pun aku nggak suka. Aku cuma respect (wallah๐Ÿ˜…) karena dia juga ciptaan Allah. Eh tapi nggak ada ciptaan Allah yang sia-sia, pasti ada yang bisa diambil pelajaran. Yekan ?!

Aku nggak akan nyeritain filosofi atau fakta hidup lalat sih hhh jadi ceritanya kemarin nemu postingan potongan ceramah ustadz khalid basalamah di IG yang ngebahas hadist ini,

ุนَุจْุฏُ ุงู„ู„َّู‡ِ ุจْู†ُ ู…َุณْุนُูˆุฏٍ ุนَู†ْ ุงู„ู†َّุจِูŠِّ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ู‚َุงู„َ ุฅِู†َّ ุงู„ْู…ُุคْู…ِู†َ ูŠَุฑَู‰ ุฐُู†ُูˆุจَู‡ُ ูƒَุฃَู†َّู‡ُ ู‚َุงุนِุฏٌ ุชَุญْุชَ ุฌَุจَู„ٍ ูŠَุฎَุงูُ ุฃَู†ْ ูŠَู‚َุนَ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุฅِู†َّ ุงู„ْูَุงุฌِุฑَ ูŠَุฑَู‰ ุฐُู†ُูˆุจَู‡ُ ูƒَุฐُุจَุงุจٍ ู…َุฑَّ ุนَู„َู‰ ุฃَู†ْูِู‡ِ ูَู‚َุงู„َ ุจِู‡ِ ู‡َูƒَุฐَุง (ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ)

Dari Abdullah bin Mas’ud ra berkata, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya seorang mukmin (ketika) ia melihat dosa-dosanya, adalah seperti (ketika) ia duduk di lereng sebuah gunung, dan ia sangat khawatir gunung itu akan menimpanya. Sedangkan seorang fajir (orang yang selalu berbuat dosa), ketika ia melihat dosa-dosanya adalah seperti ia melihat seekor lalat yang hinggap di batang hidungnya, kemudian ia mengusirnya seperti ini lalu terbang (ia menganggap remeh dosa).” (HR. Bukhari)

Aku ulang-ulang terus hadist ini sambil mikir ...  Iya yah orang beriman itu takut sama dosa, meskipun hal sepele aja keliatan kayak ngelakuin dosa besar seakan dosa itu seperti gunung. Sedangkan di sisi lain ada orang yang meremehkan dosa, dosa besar dosa kecil dianggap sepele, seperti lalat, yang hinggap di batang hidup. Dikibas udah lari.

Iyah lalat, serangga yang bisa dibilang menjijikkan yang hidup berdampingan dengan manusia, tapi siapa peduli, dia hanya bagian teremeh dari kerasnya hidup.

Ada di posisi mana diri ini sekarang ? Rasanya tak mampu menjawab, malu, diri ini yang sering menyepelekan dosa. Kadang masih sering terbesit 'Ah gapapa koreaan bentar, ntar kan tetep ngaji.' Juga masih suka berjabat tangan sama non mahram, nunda shalat eh pas udah shalat malah buru-buru, nggak mengingatkan teman malah ikut ngomongin orang dan masih banyak seolah remeh-temeh lainnya.

Ya Allah ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ

Komentar