Langsung ke konten utama

#BengkelDiri LV1 - Hidayah dan Dhalalah

Rabu 23 Januari 2019 Siswa Bengkel Diri Kelas Halimah As Sa’diyah bersama Ustadzah Khutbah/Ummu Nazeeha belajar tentang hidayah dan dhalalah (kesesatan). MasyaAllah materi yang disampaikan jelas banget.

Masih sering banget kita dengar ada orang disekitar kita yang ingin melakukan suatu hal baik tapi belum bisa dengan alasan nunggu hidayah. Apa benar hidayah itu datang ujug-ujug dari Allah dan bisa merubah seorang menjadi baik secara langsung? Jadi baik, mendapat pahala, masuk surga. Jika memang seperti itu, lantas bagaimana dengan orang yang belum mendapat hidayah dari Allah? Apakah setiap kesalahan yang ia lakukan tidak akan dihisab? Atau tetap dihisab, berdosa, masuk neraka dan disiksa? Eh tapi kalo seperti itu kan kasian yang belum dapat hidayah… kesannya kek Allah itu nggak adil. Padahal kita semua tau Allah itu Al Adl (Maha Adil).

Banyak yang beranggapan seperti itu bahwa hidayah dan dhalalah adalah kehendak Allah, siapa yang dikehendaki mendapat petunjuk akan dapat petunjuk, sedang yang dikehendaki sesat akan sesat dengan dasar Qs Al A’raf: 178, Qs Al Baqarah: 272, dan Qs Al ‘Anam: 125, Allah memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki. Tapi apakah benar maknanya seperti itu atau ada makna lain?

Kita yakin bahwa Islam itu agama paling adil, apa yang kita lakukan itu yang akan dihisab dan kita tidak akan dihisab atas perbuatan orang lain. Pun Allah SWT bukanlah director sebuah movie yang memilih seorang menjadi baik atau jahat. Allah tidak akan menyiksa yang bersalah karena Allah benci kedzaliman. Dan keadilan mutlak kelak adanya di akhirat. Lalu apa sebenarnya makna dari tiga ayat diatas?

Ada ayat-ayat yang menjadi pertentangan ayat sebelumnya bahwa manusia sendirilah yang memilih hidayah dan kesesatannya. Qs Fushilat: 46, Qs AL Isra: 15, Qs Saba: 50 Qs Ali Imron: 69, Qs An Nisa: 60. Allah tidak memeberikan petunjuk secara langsung pada manusia tapi Allah memberikan kesempatan yang sama kepada tiap individu untuk mendapatkan petunjuk, diantaranya:
  1. Nisbatul Khalq, dimana Allah memberikan qadha’ akal pada setiap individu  untuk bisa membedakan jalan takwa dan fujur. Namun seringnya manusia menilai baik/buruk suatu hal berdasar persepsi, lingkungan, ideology, dan akhlak mereka. Misalnya saja pada agama lain, musyrik adalah bentuk ibadah dan dibenarkan oleh mereka, sedangkan pada Islam itu jelas melanggar karena tiada ilah yang patut disembah/diibadahi selain Allah. Lalu apa yang menjadi patokan baik/buruk? 
  2. Nisbatul Irsyad Wal Bayan, Allah mengutus Rasulullah saw dengan membawa Al-Qur’an, definisi dan standart kebenaran yang mutlak. Al Qu’an sebagai patokan baik/buruk, benar/salah dan akhlak  Rasulullah saw sebagai suri tauladan bagi kita. Tinggal kitanya saja yang memilih mau menjalankan kehidupan ini sesuai Al-Qur’an dan Hadist, atau memilih jalan lain yang mengarah pada kesesatan. 
  3. Nisbatut Taufiq, Bagi orang yang terus mencari tau kebenaran, maka Allah SWT akan  mempertemukannya dengan petunjuk. Inilah maksud dari Qs Muhammad: 17, Qs Al ANkabut: 69, Qs Yunus: 9.
Hanya saja hidayah/petunjuk ini tidak akan ditemukan oleh 8 orang, yakni :
  1. Kafir, Qs An Nahl: 104 
  2. Dzalim, 
  3. Fasiq, faham hukum Allah tapi tidak mengamalkan 
  4. Takabbur, Qs Al A’raf: 10 
  5. Dholal/Sesat 
  6. Hubbud dunya/Cinta dunia Qs An Nahl: 37 
  7. Musrif/berlebihan, atau mubadzir membelanjakan harta pada hal yang sifatnya haram. Missal beli tiket konser, khamr, lotre.
  8. Kadzib/pendusta, Qs Al Mu’min: 28
Hukuman pada kedelapan orang ini adalah
  • Qs Ash SHof: 8, Allah memalingkan hatinya dari kebenaran dan tidak akan member petunjuk/taufiq 
  • Qs AN Nisa: 155, Allah mengunci hatinya dari kebenaran 
  • Qs AL Muthoffifin: 14, Allah menutupi hatinya dari kebenaran
Jadi kesimpulannya, Hidayah dan Dhalalah adalah pilihan manusia sendiri, Allah memberikan kesempatan setiap orang untuk mendapatkan hidayah dengan member akal dan mengutus rasul serta membawa Al Qur’an. Bagi yang mencari tau kebenaran akan Allah tunjuki jalan lurus, bagi yang memilih jalan sesat Allah akan membiarkan kesesatannya, berpaling dan menutupi hati mereka dari kebenaran. kecuali jika dia bertaubat dan memilih jalan yang lurus maka dengan kemaha baikan Allah insyaAllah menghilangkan hukuman itu dan  akan dipertemukan dengan hidayah.

Untuk itu kita harus selalu waspada terhadap setiap pilihan kita, merasa berjalan ditengah ranjau, selalu hati-hati. Selalu mencari tau, belajar Al Qur’an dan Hadist. Melakukan hal-hal yang diperintah dan dibolehkan syari’at. Serta selalu berdo’a ssemoga selalu ditunjuki jalan yang lurus, ditetapkan hati kita pada agama islam, dan dilindungi dan dihindarkan dari kesesatan.

Bagaimana dengan yang terlahir dalam keluarga dan lingkungan kafir? Itu adalah qadha’ Allah yang harus diterima. Selama ia mau menggunakan akal dan menerima kebenaran insyaAllah Allah akan berikan taufiqnya, sepeti kisah nyata mahasiswa nonis di buku mengapa aku memilih islam.

So, udah nggak bingung lagi ya hidayah itu qadha’ atau bukan, ditungu atau di cari. Kalo kita pengen jadi baik  gunakan akal untuk membedakaan baik/buruk dengan standart Al-Qur’an dan hadits.


Komentar

  1. Mba, terima kasih banyak ya. Saya jadi paham skrg. Semoga tulisan ini bisa jadi amal jariyah buat mba ya, aamiinn.. #salam kenal saya siswi BD angkatan 9 :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. MasyaAllah aamiin ... do'a baik untuk mba juga :) Semoga kita bisa mengamalkan ilmu dr BD ya mba ♡

      Hapus

Posting Komentar