“Ada dua orang dimuka bumi ini yang hafal dengan kesalahan kita, satu musuh kita dan yang kedua adalah mertua kita”
Komunikasi dengan mertua adalah kelas YSB ke-2 yang aku ikuti. Kenapa ikut kelas ini? Seberapa pentingkah mempelajari komunikasi dg mertua? Sebelumnya sama dg teh buna aku pribadi juga punya ketakutan akan mertua, apalagi mertua perempuan. Banyak cerita disekitaran dari teman kita, keluarga, media yang segimana seremnya punya dan tinggal bareng mertua. Istilahnya ‘perempuan selalu benar dan diatas semua itu mertua perempuanlah yang maha benar’ Dan aku juga dari duluu banget tiap berdoa soal jodoh pasti sepaket dengan mohon dipilihkan mertua baiik supaya bisa harmonis hhhh
Dan ini rangkuman dr kelas ysb komunikasi dengan mertua
Peran dan posisi suami istri serta mertua dalam mengambil keputusan
Peran suami sebagai al qawwam yang membuat keputusan, peran istri al ummu wa rabatul bayt punya hak untuk menyampaikan pendapat. Sama dengan mertua sebagai orang yang sudah banyak pengalamannya juga punya hak untuk mengutarakan pendapat. Keputusan suami mutlak untuk ditaati selama tidak melanggar syariat, terlepas dari pendapat siapa yg ia ambil. Hubungan suami istri adalah hubungan sahabat, hubungan saling tolong menolong dan tanggung menanggung. Kewajiban istri mensuport mempersilahkan suami berbakti kepada ortunya. Suami sangat boleh mentaati atau mengutamakan ibunya dan istri tidak boleh menghalangi suami berbakti pada ortunya.
Peran mertua dalam keluarga anak
Bawel, ribet, suka ngatur dan ikut campurnya mertua hanya bentuk lain dari sayang dan ingin menasehati, wajar beliau-lah yang merawat pasangan kita dari dalam kandungan. Hanya saja mungkin cara menyampaikannya yang salah atau terlalu kaku jadi terkesan seperti mertua nyebelin. Sebagai anak/mantu kita harus bisa memahami, palagi jika mertua kita termasuk dalam midle life crisis yang caper banget ke anaknya.
Suami sebagai jembatan komunikasi (antara kita dan mertua)
Suami berkewajiban mentaarufkan istri ke keluarganya, masalah, masalalu dsb. Oleh karena itu kita harus punya pola komunikasi yang baik dengan suami.
4T (Taaruf Tafahim Ta’awun Tafakul)
Ketika kita mengenal dekat mertua maka kita bisa memahami pola pikir dan kondisinya sehingga kita bisa saling tolong menolong dan tanggung menanggung ikut merasakan dan mengingatkan dalam kebaikan tanpa ada pikiran negatif dan drama antara menantu dan mertua.
Permasalahan menantu dan mertua beserta problem solvingnya
Setiap permasalahan pernikahan yang melibatkan mertua semua bisa dibicarakan dengan baik, santun, lembut. Beberapa masalah yg sering terjadi misalnya
- Ketika mertua menentang poin visi misi pernikahan, selama visi misi pernikahan kita tidak bertentangan dengan syariat dan memang sudah keputusan berdua bersama pasangan, bisa sounding ke mertua dengan baik dan pelan.
- Ketika mertua menentang visi misi dalam pola pengasuhan anak, bisa dibicarakan dari awal dengan baik dan minta tolong kerjasamanya agar bisa saling menghargai supaya tidak terjadi dobel pengasuhan.
- Ketika mertua over ekspektasi terhadap menantu bisa segala jenis masakan, merawat suami dg baik, akas bersih-bersih. Kita bicarakan dengan santun bahwa kita masih perlu banyak belajar dan berbenah, kalo masih dinyinyirin ndakpapa... terus belajar menjadi lebih baik.
- Ketika mertua tidak paham syariat, misal mertua yang tidak suka mantunya pakai jilbab panjang dan khimar besar maka bisa kita sampaikan alasan kita dengan baik.
Komunikasi efektif dengan mertua
Terapkan mindset bahwa mrtua adalah kunci surga suami, jadi wajib kita sebagai istri solihah menyayangi, menghormati, dan bantu suami mendapat ridonya. Mertua sama dengan orangtua kita, copy paste perlakuan kita pd ortu ke mertua kita, perhatikan ‘wink’ waktu nada intonasi dan kata saat berbicara.
Manajemen konflik
Perbedaan pendapat atau keputusan, posisikan apakah permasalahan berhubungan dengan syariat atau hanya masalah ego. Jika berhubungan dg syariat tinggal kita sampaikan. Jika tdk berhungan dg syariat, pendapat mertua bisa jadi bahan pertimbangan klo kitanya memang tdk bisa menerima pendapat tsb dg alasan yg jelas maka kita bisa mohon maaf dulu dan sampaikan alasannya. Libatkan suami untuk memberi keputusan jika memang diperlukan.
Membongkar paradigma
Ubah mindset mertua bawel ribet tukang ngatur suka ikut campur menjadi mertua itu menasehati, mengingatkan, memberi masukan
Jika memang benar
Benar-benar mertua jahat, menyakiti, ghibah bukan cuma parafigma atau framing media... maka biarin aja, karna kita tdk akan dihisab akan perilaku orang lain. Tidak usah dibalas, tugas kita tetep birul walidain.
Dakwah pada keluarga
Jika mertua tdk paham syariat maka tugas kita mengajak (bukan menggurui) pada kebaikan secara lembut. Jika kita blm bisa dakwah lisan bisa dengan menunjukkan perilaku baik kita, akhlakul karimah. Jika mertua blm tersentuh maka kita doakan.
Alhamdulillah ... jadi mayan gak grogi ya one day kalo ketemu camer. Udah punya teorinya tinggal action. Barangkali ada temen2 yang kebetulan baca ringkasan ini dan pengen ikutan kelasnya bisa cari info jadwal di IG teh bunga. Ada kelas pernikahan, kelas komunikasi suami istri, manajemen rumah tangga dan masih banyak lagi. Senangnya setelah ikutan kls teh buna ada kls alumni jadi masih bisa tanya2 meskipun kls udah selesai. Dan teh bunga juga sering ngasih edukasi di WAstory nyaa...
Semoga bermanfaat semuanya ♡♡
Komentar
Posting Komentar