Langsung ke konten utama

HOME BASED EDUCATION (PEMBELAJARAN BERBASIR RUMAH)


‘Al Ummu Madrasatul Ula Wal Abu Mudiruha’ Ibu adalah madrasah pertama bagi anaknya dan ayah adalah kepala sekolahnya.

Kalo ditanya nanti rencana anaknya akan dimasukkan sps atau paud ndak? Jawabanku masih sama. “Enggak” hahaha dibilang gak peduli pendidikan anak, yaudah… kita punya hak menentukan metode pendidikan anak, dan anak pun selama usia batita masih punya hak untuk main, main, dan main. Dan karna bibuknya suka main kenapa nggak puas-puasin main bareng aja dulu kite kekeke

‘Balik ke jaman dulu dong? Dulu mana ada sekolah untuk bayi, sps, paud. TK aja jarang….’ Yap, aku pun nggak menyalahkan jika ada ortu yang punya pilihan menyekolahkan anak sejak bayik… mungkin itu pilihan ikhtiar mereka untuk menstimulasi tumbuh kembang anak. Kalo aku pribadi entah kenapa aku pengen membentuk bonding dengan anak dulu, mau nguatin tauhidnya dulu, main-main sambil belajar dirumah dan lingkungan sekitar. 

Actually sekarang ini, aku lagi tertarik dan mendalami seputar Home Based Education dengan metode Islamic Montessori sih… masih nyari-yari ilmunya dan ngelist perencanaan untuk diterapkan ke anak nantinya.

Jadi 03 Desember 2019 lalu aku ikutan kulwap yang diadakan kursusku.id seputar Home Based Education (HBE), narasumbernya Teh Nisa Nur Arifah, Penulis buku cerita parenting dan founder Whitebee School Life. 

Jadi apasih Home Based Education (HBE) ini? Pembelajaran berbasis rumah, ini adalah bentuk penerapan dari peribahasa ‘Al Ummu Madrasatul Ula Wal Abu Mudiruha’ Ibu adalah madrasah pertama bagi anaknya dan ayah adalah kepala sekolahnya.

Pembagian tugas dan tanggungjawabnya seperti apa? Sama seperti pendidikan formal, Ayah sebagai pemimpin/kepala sekolah yang menentukan visi misi pendidikan keluarga, menyediakan fasilitas (mecari nafkah), mensejahterahkan guru (dalam hal ini bibuknya), lalu mengadakan evaluasi berkala. Sedangkan tugas bibuknya sebagai guru utama yang bertanggung jawab dari anak bangun sampai tidur lagi, dimana anak disini sebagai murid.

Pengaplikasian HBE bisa dimulai sejak anak lahir, untuk panduannya bisa mengacu pada check list dan parameter dari diknas. Dari panduan tersebut nantinya kita bisa menentukan kegiatan/permainan seperti apa yang bisa menstimulasi pertumbuhan dan perkembangannya, lalu buat report untuk evaluasi dengan suami. Jadi bukan menjejali anak dengan banyak hal sebelum waktunya.

Biarkan anak berkembang sesuai milestonenya dan kita sebagai orang tua memfasilitasi dan mendampingi setiap pengalaman berharga mereka .

Teh Nca membagi pengaplikasian HBE ini menjadi 7 fitrah: 

  1. Fitrah keimanan: Exposure & atmosphere, mengenal asmaul husna dalam keseharian, religious outing, cinta ibadah dan Qur’an 
  2. Fitrah belajar: Intellectual curiosity book, ODOMA mengacu pada milestone anak, ODOS
  3. Fitrah bakat: Tour the talent, Portofolio anak 
  4. Fitrah seksualitas: Pengenalan gender sesuai ajaran islam 
  5. Fitrah estetika: Free art 
  6. Individualitas: Memberikan hak memilih dan hak tampil beda
  7. Fitrah jasmani: mematangkan sensori integrasi, motorik kasar, dan mengenalkan olahraga sunnah.

HBE ini bisa banget diterapkan untuk orang tua yang bekerja, toh yang penting ada bonding dengan anak, ada waktu dengan anak walopun gak sebanyak buibuk yang full dirumah, dan perkembangan sesuai milestone terpenuhi. Kualitas lebih utama dibanding kuantitas. 

Lha kalo punya anak banyak?! Kalo usia anak gak jauh bisa fokus ke anak yang lebih tua, biar dia nggak ngerasa kurang perhatian dan tumbuh kasih sayang ke adeknya. Aku juga pernah baca sih kalo HBE itu emang tipe sosialisasi vertikal, jadi anak gak hanya bergaul dan belajar dengan yang seumuran saja, tapi lintas umur – ada orangtua, sodara, bahkan masyarakat yang pasti rentang usiaya berbeda. 

Banyak banget ilmu yang didapet dari kuliah home based education ini. Sekarang banyakin aja referensi kegiatan/mainan dan stories yang menggabungkan main belajar dan mengenalkan agama ke anak sesuai milestonenya. Semangat buibuk ^^

Komentar