Reaksi temen bumilku pas tau aku baca buku ini “Halah ngapain beli buku kayak gini... informasi kayak gini iku diinternet banyak. Dan ini semua teori, beda dengan praktek langsung.” Gak semua ilmu dishare secara cuma-cuma diinternet, sebagian tidak lengkap, rancu dengan mitos bahkan hoax. Buat aku pribadi jika sudah dalam bentuk buku rasanya udah terjamin aja kevalidannya apalagi penulisnya konsultan ASI bersertifikat Internasional. Dan membaca buku lebih nikmat ketimbang scrolling banyak info di internet yang kita sendiri gak bisa nyaring karna bukan ahlinya. Beda lagi ya kalo seminar/kuliah online yang langsung dari narasumber ahli, itupun jarang yang gratisan loh... Yang ada dibuku memang teori, tapi setidaknya sebelum terjun kita udah ada ilmunya biar kalo pas ngadepin masalah gak stress duluan. Sekali lagi itu menurut aku... dan yah setiap orang punya pandangan dan pendapat masing-masing sih 🤭
Baca buku ‘Anti Stress Menyusui’ karna direkomen langsung sama dr ratih setelah mengikuti sesi konsultasi beliau di WA yang diadakan bidan muda bergerak awal Januari ini. Benar saja dibuku ini ada banyak pertanyaan dan kekhawatiranku terjawab, bahkan sampek hal yang tak terpikirkan dikupas tuntas. Belum nemu sih blog atau artikel yang ngejelasin serunut dan sedetail buku ini atau mungkin surfingku kurang jauh?! Hhehe
Nanti akan aku share poin penting dari buku ini sebagai catetan ku juga...
Informasi Buku
Judul : Anti Stres Menyusui
Penulis : dr. Asti Praborini Sp. A., IBCLC & dr. Ratih Ayu Wulandari, IBCLC Penerbit : PT. Kawan Pustaka
Halaman : 328 hal
ISBN : 978-979-757-657-8
Cetakan kedua, 2018
Aku beli online buku ini di shopee, harganya 88.000 di play store juga ada kok versi ebooknya, harganya sekitar 77.000.
Buku ini gak ngebosenin karena ada banyak gambar-gambar ilustrasinya dan size hiruf dan fontnya variatif dengan warna pink peach, putih dan hitam. Covernya jenis soft cover... tebel tapi ringan bukunya tuh.
Lanjut kita bahas isinya yaa... Diawal buku ini kita disuguhkan beberapa cerita perjuangan ibu asi. Kenapa diperjuangkan sampe segitunya? Karena asi adalah makanan terbaik untuk bayi dan saat menyusui itu adalah waktu untuk membangun bonding dan kepercayaan antara si ibu dan bayi. Banyak manfaat dari mengAsihi secara langsung, sampai-sampai agama memerintahkannya. Di buku ini dipaparkan dari sudut pandang 4 agama dan pemerintah juga bahkan dari segi ekonomi dan keluarga. Sedetail itu bukunya hhihi
Persiapan sebelum mengasihi
Pijatan dan pembersihan berlebihan bisa menyebabkan kontraksi, air susu yang belum keluar mendekati kelahiran itu wajar karena hormon kehamilan yang diproduksi placenta menghalangi keluarnya asi. InsyaAllah asi akan keluar setelah ibu melahirkan, IMD, dan skin sto skin.
Dan jumlah Asi mengikuti kebutuhan bayi. Ketika ibu sakit pun masih bisa menyusui, bahkan saat si bayi yang sakit asi akan menjadi obat. Selesaikan 1 PD sampai bayi kenyang baru PD yang lain. Kenapa? Agar bayi mendapatkan seluruh komposisi asi baik yang encer maupun kental.
Nah dalam menyusui biasanya ada kendala.
- Bayi Asi tapi BB gak naik bahkan turun
- Bayi tidak bisa melekat dg baik
- PD bengkak atau sakit
- Ibu bekerja
- Fenomena raynaud
So ketika mengAsihi perlu diperhatikan
- Apakah pelekatan sudah benar
- Adanya tongue tie atau lip tie
- Tidak seling dot karna bisa bingung puting
- Hormon oksitosin berperan besar untuk produksi asi, jd ibu harus hepi, bisa juga suami banyu pijet-pijet, skin to skin dengan bayi.
- Kalo bukan ibu pekerja sebaiknya tidak usah perah asi, bisa langsung saja.
- Konsultasi dengan ahli laktasi
Dan beberapa hal yang bikin ibu galau.
- Menyusui saat puasa, bisa mengikuti pendapat mahdzab.
- Menyusui saat hamil. Diperbolehkan, tapi ada resiko kontraksi. Jika usia sudah diatas 1th bisa diberikan susu sapi cair dengan menggunakan gelas atau sendok.
- Menyusui 2 anak sekaligus. Boleh, hanya saja ibu harus mendahulukan yang lebih kecil agar asi tidak habis diisap kakak.
Buku ini juga dilengkapi seputar mpasi dan resepnya. Paket komplit banget kan.
Semangat buibu penjuang Asi ❤





Komentar
Posting Komentar