Langsung ke konten utama

BUKU MENDIDIK KARAKTER DENGAN KARAKTER BY IDA S WIDAYANTI

Bismillah mengawali hari pertama ditahun 2020 dengan review buku yang baru selesai dibaca pagi ini. Entah kenapa akhir-akhir ini butuh waktu berminggu-minggu untuk menghatamkan satu buku yang dulunya bisa diselesaikan dalam sekali duduk ㅠㅠ salah satu resolusi 2020 nih, luangkan lebih banyak waktu lagi untuk membaca dan mengurangi surfing dunia maya yang semakin banyak kepalsuan hhihi 

Masih dari buku karya Ustadzah Ida, kali ini catatan parenting 3 Mendidik Karakter dengan Karakter. Sudah jatuh cinta dengan gaya tulisan dan penjelasan yang beliau sampaikan. Selalu ringkas, to the point, dan kaya makna. Semakin membuka dan mengarahkan pembaca untuk menjadi orang tua/orang dewasa yang baik dan waras dalam menghadapi dan memahami segala tingkah polah anak. 


Cusss langsung aja ke informasi buku 

 

Informasi Buku
Judul: Mendidik Karakter dengan Karakter 
Penulis: Ida S Widayanti 
Penerbit: Arga Tilanta 
Halaman: XLVI + 152 Hlm 
ISBN: 978-979-1328-65-4 
Cetakan 8, November 2018 

Di review buku sebelumnya, bahagia mendidik mendidik bahagia udah aku ceritain gimane bisa dapetin buku ini. Jadi buku ini free dikirim langsung oleh ustadzah ida barengan dengan buku mendidik bahagia yang aku pesan setelah mengikuti salah satu kulwap beliau 😊 

Buku bertandatangan Ustadzah Ida

Mendidik karakter dengan karakter ... Jadi buku ini merupakan kumpulan kisah begimana orangtua diluar sana dalam mendidik anaknya. Gak semua kisah merupakan kisah bahagia.. ada banyak kisah sedih susah didalamnya. Namun dalam setiap kisah selalu ada kesimpulan hikmah yang bisa diambil pelajaran. Memang terkadang kita harus belajar dari pengalaman orang lain untuk bisa menjadi lebih baik lagi. 

Buku ini terdiri dari 4 bagian, dahsyatnya masa kecil, karna anak-anak percaya apapun yang orang tua katakan, mandiri sejak dini, dan prinsip pengasuhan. Masing-masing bagian ada 7-13 kisah parenting. Penyusunan buku sedikit berbeda dengan buku parenting 2, di parenting 3 ini kesimpulan dijadikan sebagai pembuka kisah-kisah. 

Setiap kisah pasti penuh makna dan kesan tapi yang sangat membekas buatku adalah memaknai salam. Karna selama ini buatku salam ya sekedar minta dan memberi restu saat akan berpisah dan menjadi uangkapan syukur saat pertemuan kembali. Namun dalam buku ini kita diajak memaknai sedikit lebih dalam. 

" MEMAKNAI SALAM "

Seorang anak kelas 1 SD berkata pada ibunya, "Ummi, sekarang aku tahu mengapa kita harus mengucapkan salam dan bersalaman sebelum pergi dari rumah.

"Oya, mengapa memangnya?" sang Ibu penasaran. "Karena waktu pergi dari rumah, kita tidak pernah tahu apakah kita akan selamat kembali ke rumah atau tidak. Jadi, waktu bersalaman kita harus benar-benar mendo'akan dan saling memaafkan," kata sang anak perempuan tersebut dengan ekspresi serius. 

Si Ibu tersentak karena ternyata anaknya yang baru berusia tujuh tahun telah memahami makna dari ucapan salam. Karena salam sudah menjadi hal yang rutin dan biasa, seringkali tak disadari lagi maknanya dan mengucapkannya pun dengan sambil lalu. Seperti yang disampaikan anak tersebut, tidak ada yang menjamin bahwa seseorang yang melangkah dalam keadaan selamat kembali ke rumah. Mungkin kecelakaan di jalan bisa saja mengakhiri hidupnya, atau sakit tiba-tiba bisa mengancam jiwanya. 

Mengucapkan salam selain dilakukan saat bertemu dan berpisah secara fisik, juga saat berbicara jarak jauh yaitu menggunakan pesawat telepon. Namun saat mengucapkan salam lewat telepon pun seringkali karena spontanitas, tidak benar-benar sambil mendo'akannya. 

Ada seorang Ibu yang jika menelepon anak remajanya bahkan tidak mengucapkan salam sama sekali. Kalimat pertama yang diucapkannya, "Putri dimana?" Karena selalu kalimat itu yang diucapkan sang Ibu saat meneleponnya, maka anak gadis tersebut menyimpan nama Ibunya di telepon selulernya bukan dengan nama sang Ibu tapi dengan tulisan "Putri dimana". 

Pertanyaan "Putri dimana?" dengan nada cemas ternyata dirasakan tidak nyaman oleh anak gadis tersebut. Ia merasa seolah Ibunya tidak mempercayainya. Ucapan salam dengan do'a sepenuh hati tentu jauh lebih baik dibanding pertanyaan dengan nada mencurigai. 

Pentingnya mengucapkan salam banyak dimuat dalam hadits. Abdullah bin Mas'ud meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam Bersabda : "Salam adalah salah satu Asma Allah yang telah Allah Turunkan ke bumi, maka tebarkanlah salam kepada yang lain, derajatnya ditinggikan dihadapan Allah." 

Salam meskipun terkesan sederhana, namun merupakan amalan yang memiliki keutamaan. Rasulullah bahkan menyebutnya sebagai perbuatan baik yang paling utama di antara perbuatan baik yang kita kerjakan. Sayang, jika dalam pelaksanaannya kurang dihayati. 

Sebagaimana diucapkan oleh anak di atas, saat para suami, istri, anak berpisah di pagi hari belum tentu mereka akan bertemu lagi. Jika menyadari hal itu, tentu saat salaman mereka akan melakukannya dengan sepenuh hati dan dengan do'a yang khusyu' dan tulus. Dengan demikian saat sore hari mereka berkumpul kembali, ucapan salam akan diucapkan dengan penuh kesyukuran karena ternyata Allah masih memberi mereka kesempatan untuk bertemu lagi dalam keadaan sehat wal'afiat. 

Semoga kita senantiasa mengucapkan salam dengan sepenuh hati, yang dengan salam tersebut makin mendekatkan hubungan antara anggota keluarga dan makin menumbuhkan kasih sayang.

~~~

Yah, ketika kita ingin membentuk karakter anak yang baik maka kitapun harus menjadi role modelnya dengan selalu memberikan contoh perilaku kita yang baik. Mendampingi dalam setiap tumbuh kembang mereka, menjadi tempat curhat dan teman diskusi yang asik, meluangkan waktu untuk belajar dan bermain bersama anak... terus mengupgrade diri untuk menjadi orang tua yang sesuai dengan jaman. Semangat buibuk ^^ 

Komentar