Langsung ke konten utama

BERKISAH - SUNAN GIRI


Bismillah … berawal dari jalan-jalan kami sebelum Ramadhan, ke Makam Sunan Giri dan Syeikh Maulana Malik Ibrahim di Gresik. Bibuk menambahkan kegiatan Berkisah untuk Najib sebelum tidur. Kisah yang ringan-ringan terlebih dahulu. Alhamdulillah anaknya jadi lebih cepet bobok.

Beberapa hari ini kami menceritakan kisah Sunan Giri kecil hingga dewasa. InsyaAllah akan dirutinkan postingan seputar berkisah di blog juga. Untuk tata bahasa bisa diolah sesuai usia anak buibuk yaaa….


Pada abad ke 14 di ujung timur Pulau Jawa, tepatnya di Blambangan, lahir bayi laki-laki rupawan, wajahnya memancarkan cahaya.

Ibunya bernama Dewi Sekardadu, anak Raja Blambangan yang masih keturunan Prabu Hayam Wuruk. Sedangkan ayahnya adalah Syeikh Maulana Ishaq, pendatang dari jazirah arab untuk menyebarkan agama Islam.

Syeikh Maulana Ishaq merupakan ulama dengan keilmuan tinggi, beliau diangkat menjadi adipati di Blambangan setelah menyembuhkan penyakit Dewi Sekardadu. Dan karena kedisiplinan dan adabnya yang baik, Raja menikahkan beliau dengan putri semata wayangnya.

Sayangnya sejak dalam kandungan Syeikh Maulana Ishaq dipaksa pergi meninggalkan Blambangan atas hasutan Patih yang dengki dan ingin menguasai kerajaan.

Raja dan masyarakat Blambangan bahagia atas kelahiran putra dewi sekardadu. Ia mendapat banyak limpahan kasih sayang.

Namun kebahagiaan akan kelahiran calon penerus raja itu tak berlangsung lama. Masyarakat Blambangan dijangkiti wabah penyakit mematikan.

Kini sang Patih kembali menghasut Raja, “Paduka Raja, mungkin wabah penyakit ini datang karena bayi itu, anak Maulana Ishaq” Mendengar itu Raja amat murka. Patih tak menyerah, setiap hari ia terus menghasut raja, hingga suatu hari Raja mulai memikirkan ucapan sang patih. Raja pun memberikan titah untuk membuang putra Dewi Sekardadu ke lautan. Bayi laki-laki ini dihanyutkan di selat Bali dalam peti mewah.

Dewi Sekardadu dirundung nestapa. Setelah ditinggal suami, kini ia harus kehilangan putranya.. Ia pun nekat pergi dari kerajaan, mengarungi lautan dengan kapal. Badai besar menerpa kapal Dewi Sekardadu, membuat kapal itu pecah dan tenggelam. Ia pun hanyut dan terdampar di pantai Sidoarjo, warga yang menemukan dalam keaadan tak sadarkan diri merawatnya. Dewi Sekardadu pun menetap di Sidoarjo hingga akhir hayatnya..

Sedangkan peti sang bayi terus terombang ambing di lautan. Hingga suatu siang ada awak kapal yang menemukannya. Ia segera melaporkan ke Nyai Ageng Pinatih, Syahbandar Gresik, Seorang saudagar yang kaya raya. Beliau kemudian mengangkatnya menjadi anak. Bayi laki-laki ini diberi nama Joko Samudra, Laki-laki muda dari lautan.

Menginjak usia remaja Nyai Ageng Pinatih mengirimnya ke Ampeldenta untuk berguru pada Sunan Ampel.

Suatu hari Sunan Ampel sedang berkeliling, Ia melihat pancaran cahaya dari seorang anak laki-laki yang tertidur pulas. Beliau tak tahu itu siapa, yang beliau yakini, anak laki-laki ini pasti mempunyai keistimewaan. Sunan Ampel mbundeli sarung Joko Samudro sebagai tanda.

Keesokan harinya saat semua santri berkumpul sunan ampel bertanya “Siapa yang bangun tidur sarungnya bundelan” Joko Samudro mengacungkan tangan. Beliau kemudian meminta orang tua berkunjung ke pesantren menemuinya.

Mendengar kisah Joko samudro dari Nyai Ageng Pinatih, Sunan Ampel semakin yakin bahwa Joko Samudro bukan anak biasa. Apalagi ketika ditemukan ia berada dalam peti mewah yang diketahui milik kerajaan Blambangan. Beliau teringat akan pamannya, Maulana Ishaq yang pernah menceritakan kisah keluarganya. Sunan ampel meminta ijin nyai ageng pinatih merubah nama Joko Samudro menjadi Raden Paku, agar orang-orang tak mencari tahu asal usulnya.

Di Ampeldenta, Raden Paku bersahabat dengan anak sunan ampel, Raden Mahdum Ibrahim yang kelak menjadi Sunan Bonang. Keduanya hendak melanjutkan mencari ilmu sekaligus berhaji ke kota Makkah.

Saat perjalanan di Malaka, Raden Paku dan Raden Mahdum bertemu Syeikh Maulana Ishaq. Inilah pertemuan pertama ayah dan anak. Syeikh Maulana Ishaq pun menceritakan alasan kenapa beliau harus meninggalkan kerajaan Blambangan. Mengetahui fakta itu Raden Paku amat sedih dan haru.

Syeikh Maulana Ishaq meminta keduanya mengurungkan niat ke Makkah, “Disini kalian lebih dibutuhkan, ajarkan apa yang kalian ketahui.” Keduanya pun memustuskan berguru ke Maulana Ishaq, belajar berbagai ilmu keislaman, termasuk tasawwuf.

Menjelang kepulangan Raden Paku, Syeikh Maulana Ishaq memberikan segenggam tanah. “Carilah tekstur tanah yang sama dengan ini, lalu berdakwalah disana.”

Akhirnya mereka kembali ke Ampeldenta. Raden paku kemudian pulang ke Gresik dan mulai mencari wilayah dengan tektur tanah yang sama dengan tanah yang Syeikh Maulana Ishaq berikan, hingga sampailah di perbukitan Giri. Beliau mendirikan rumah, masjid, dan pesantren yang kemudian kita kenal dengan Kedathon Giri. Raden Paku mahsyur dengan gelar Sunan Giri.

Dalam hening, beliau ingin sekali bertemu dengan ibunya. Hingga suatu hari Allah tunjukkan gambaran yang amat nyata bahwa ibunya telah meninggal, di Sidoarjo. Beliaupun menangis. Tangisannya tak berlarut justru menjadi pacuan beliau semangat mendakwahkan agama islam.

Sunan Giri, beliau bukan hanya seorang ulama, namun juga menjadi kepala pemerintahan yang sangat disanjung karena mampu menyatukan semua lapisan masyarakat dengan keberagaman budaya. Menghasilkan banyak karya perwayangan dan tembang.

Kepiawaiannya ini membuat namanya semakin mahsyur di Nusantara. Bahkan ia mendapat gelar Prabu Satmata, Raja Dewa Siwa.

Teman berkisah Najib, boneka dari kain flanel

Komentar