Alhamdulillah.. bersyukur sekali liburan kuliah bisa tetap produktif untuk nulis di Blog. Kali ini Bibuk mau sharing yang masih anget diingatan, petualangan kelas Bunsay bulan November lalu di Goa Batu Pantai Bentang Petualang bersama Kakawi Alisa dan Kakawi Nike, membahas tentang Pendidikan Seksualitas.
Di akhir zaman ini berita tentang kekerasan dan pelecehan seksual, yang amat sangat keji. Juga pesatnya perkembangan kaum LGBT yang rasa-rasanya makin kesini makin dianggap wajar. Ngeness banget Ya Allah… sebagai orang tua, kasus ini menjadi pelajaran untuk lebih mengokohkan pondasi anak-anak dalam hal ‘mengenal identitas diri dan menemukan jati diri’.
Pendidikan Seksualitas merupakan pendidikan dalam upaya mengenalkan identitas dan jati diri anak.. Memberi pemahaman agar terbentuk cara berpikir, berperilaku, berinteraksi, berbudaya, beragama sesuai gendernya yang mana tujuannya untuk melindungi anak dari kejahatan, kekerasan, pelecehan, dan penyimpangan seksual.
Pendidikan seksualitas dikenalkan bertahap sesuai tumbuh kembangnya.
Pada anak usia 0-7 tahun, misalnya
- Mengenalkan jenis kelamin
- Memakaikan baju atau aksesoris sesuai jenis kelamin
- Memberi pemahaman siapa yang boleh lihat dan sentuh dalam hal bantu bersihkan
- Minimal usia 2 tahun sudah pisah kamar jika memungkinkan.
Alhamdulillah dengan adanya materi pendidikan seksualitas ini Bibuk jadi tau oh ternyata beneran bisa dimulai dr 0 tahun yaaa dan segampang itu.
Sebelumnya Bibuk agak bingung dengan pendidikan seksualitas untuk anak batita. Dikenalkan mulai dari mana nih??? Diusia hampir 2 tahun ini Najib sudah tau tentang alat kelaminnya, nama dan fungsinya untuk pipis.. Belum di fase paham tapi sudah terbiasa harus di tutup.. Yang masih agak bingung membedakan anak laki-laki atau perempuan saat pertama kali bertemu. Untuk pakaian dia paham yang berkerudung dipanggil mba yang pake peci mas.. tapi kalo lepas jilbab dan peci dia masih sering ketuker..
Jadi di tantangan kali ini, karena usia Najib belum 2th Bibuk lebih ke ngajak main, mengenal identitas tokoh di buku, berkisah, sambil menyelipkan ini loh perempuan, ini laki-laki baju nya seperti ini. Kegiatan jemur dan lipat baju juga ternyata selain dia bisa bedain mana baju Najib, baju Ibuk, dan baju Abah.. juga bisa jadi dasar nih kalo bentuk celana punya abah dan adek yang berjenis kelamin laki-laki, sedangkan bentuk rok dan kerudung milik ibuk yang berjenis kelamin perempuan.
Ada satu hari saat menjalankan tantangan ini, Najib kepo dengan make up ibuk, jadilah bahan untuk menjelaskan bahwa makeup bedak, pensil alis, lipstick ini dipake ibuk, perempuan. Sedangkan adek dan abah yang laki-laki cukup pakai parfum dan minyak rambut.
Selanjutnya pada anak usia 7-14 (Tamyiz dan pra aqil baligh)
- Diajarkan cara membersihkan sesuai syariat
- Meminta ijin jika masuk kamar orang tua
- Dipahamkan batasan interaksi antara laki-laki dan perempuan, seperti etika melihat dan bergaul
- Pemahaman tentang aurat
- Ayah mengenalkan tentang madzi dan mani pada anak laki-laki sedangkan ibu menjelaskan tentang haid pada anak perempuan
- Anak harus dekat dengan kedua orang tuanya
Pada anak usia diatas 15 Tahun. Anak sudah disebut baligh, sudah ada beban syariat… Pendidikan yang diberikan ketika dia akan menikah maka diajarkan etika berhubungan badan, juga orang tua harus memberikan pemahaman cara menjaga kehormatan dan menahan diri jika anak belum siap menikah.
Prinsip dalam fitrah seksualitas
- Kedekatan anak dengan kedua orang tua sejak 0-15tahun
- Ayah mensuplai maskulinitas dan ibu mensuplai feminitas. Pada anak laki-laki 75% maskulinitas 25% feminitas. Sedangkan pada anak perempuan sebaliknya.
- Penumbuhan fitrah seksualitas yang paripurna melahirkan laki-laki yang mempunyai peran keayahan sejati dan perempuan yang punya peran kebundaan sejati. Jika tidak ada figur Ayah/Ibu, maka harus dicarikan pengganti dari keluarga atau komunitas.
Tantangan dalam Proses Pendidikan Seksualitas dan Cara menghadapi
Tantangan paling mendasar yang muncul biasanya keterbatasan baik waktu maupun ilmu orang tua yang kemudian mengalihkan tugas pendidikan seksualitas ini pada guru/ustadz dan orang yang dianggap mampu. Dikhawatirkan, pendidikan yang seharusnya diberikan sesuai tahap tumbuh kembang ada yang terlewatkan.
Kini akses digital pun semakin mudah bagi anak-anak, yang dikhawatirkan berdampak pada jiwa anak akan sesuatu yang tidak lazim menjadi hal yang ia anggap normal. Juga semakin maraknya kekerasan dan penyimpangan seksual. naudzubillah min dzalik.
Maka ikhtiar yang kita lakukan sebagai orang tua yaitu dekat dengan anak, sesibuk apapun… luangkan waktu. Dengarkan dan perhatikan setulus hati sepenuh jiwa. membangun komunikasi yang intens. Memberikan pemahaman tentang perasaan, sentuhan, dan apa yang harus dilakukan saat dihadapkan dengan pelecehan seksual seperti teriak dan segera lapor orang tua. Dan terakhir yang paling penting adalah Do’a
Semoga anak keturunan kita, keluarga kita, selalu dalam lindungan penjagaan Allah dan Ya Allah mampukan kami sebagai orang tua untuk mendidik dan membersamai anak-anak kami menjadi pribadi muslim yang kokoh iman dan beradab, sesuai syari’at yang Engkau ridhoi.
Komentar
Posting Komentar