Langsung ke konten utama

MEMAHAMI DEPRESI IBU MUDA DARI FILEM KIM JI YOUNG BORN 1982


Menginjak 2022 salah satu resolusinya yaaaa pengen lebih aware lagi tentang mental health. Sudah ada deretan filem bertema mental healt yang masuk wishlist, salah satu yang baru aja selesai ditonton Kim Ji Young born 1982. Merupakan Film yang diadaptasi dari sebuah novel international bestseller berjudul sama karya Cho Namjoo yang banyak mendapat kecaman dari masyarakat Korea karena mengangkat isu sensitif, femisnisme.


Filem ini mengisahkan Kim jiyoung yang diperankan Mba Jung Yumi, wanita karir yang kemudian menanggalkan semua cita demi menjadi full time mommy. Bersuamikan Daehyun yang diperankan oleh Gong Yoo, keluarga kecil ini tinggal disebuah apartmen sederhana.


Sebagai ibu muda, Kim Jiyoung terlihat sangat lihai dalam mengurus anak juga rumah. Sayangnya banyak stigma negatif yang dilabelkan untuk Ibu Rumah Tangga 'Enak banget dirumah aja, menikmati uang suami' 'Kerjanya ringan cuma ngurus anak ngurus rumah'.


Bukannya sambat yaaaa tapi IRT itu kompleks kalo diperinci ngurus anak itu bukan cuma ngawasin aja loh… ya mandiin, nyuapin, ganti popok, ngajak main, nidurin, gendong disambi ngurus rumah ya nyapu, nyuci piring, nyuci baju, jemur, nyetrika, ngepel, beberes mainan, masak, nyiram bunga, belanja, dsb dan itu berulang setiap hari. Juga tuntutan dari orang tua/mertua menjadi anak dan menantu paripurna. Selalu ada disetiap acara ikut bantu ini itu.


Namun siapa sangka dibalik setiap jawaban 'aku gapapa, aku baik-baik saja' Kim Ji Young sejatinya lelah fisik dan mental. Mengasuh anak 24 jam dengan tugas domestik yang berulang membuatnya jenuh dan ingin kembali bekerja. Ia dilanda kegalauan dan perlahan mulai kehilangan jati diri… Saking stresnya Ia jadi pelupa, puncaknya ia seperti kerasukan, menjelma menjadi orang berbeda.


Usut punya usut.. ternyata Jiyoung ini punya trauma masa lalu yang masih menganga… budaya orang sana (yang nggak jauh beda sih sama disini) pada umumnya memang perempuan ya di rumah, laki-laki yang kerja. Perempuan harus ngalah baik dibidang pendidikan maupun karir… di dalam keluarga pun anak laki-laki lebih diunggulkan. Jiyoung pernah mendapat pelecehan seksual saat SMA, dan itu bapaknya justru menyalahkan dia lho… ngatain anaknya sendiri pake rok terlalu pendek dan pilih sekolah yang pulangnya sampe hari udah gelap. Ya pokoknya perempuan selalu salah..


Daehyun sebenarnya suami yang sangat suportif.. mau pulang lebih awal untuk bantu ngurus anak bareng-bareng, mau bantu urusan rumah, kelihatan banget sayangnya ke istri dan anak. Ia pun peka terhadap perubahan istrinya, namun setiap kali ia minta istrinya istirahat justru Kim Jiyoung ngerasa gak ada masalah .. Bahkan saat istrinya minta izin kerja lagi pun Daehyun oke aja asal istrinya bahagia.. urusan ngurus anak biar Daehyun yang cuti dulu kerja, sambil nunggu ada nanny yang sesuai kriteria untuk ngurus anak semata wayang mereka.


Daehyun pun sempat konsultasi dengan psikolog.. namun psikolog ingin mengobrol secara langsung dengan Jiyoung. Daehyun berulangkali membujuk istrinya untuk datang ke psikiatri. Percobaan pertama gagal karena Jiyoung shock mendengar harga setiap konsultasi yang terlalu mahal, sedangkan ia tak punya masalah serius, menurutnya. Sampai akhirnya karena depresi Jiyoung semakin parah, Daehyun pun menunjukkan bukti video ke Jiyoung bahwa dia sering menjadi orang yang berbeda. Daehyun merasa bersalah karena menikahi Jiyoung yang menyebabkan istrinya menjadi seperti ini. Saat itulah Jiyoung mau dan semangat untuk sembuh, demi keluarga kecilnya… Ia pun datang di setiap pertemuan konseling.


Di akhir cerita…. ia menemukan jati dirinya kembali. Ibu tangguh.. no more tears… Ia tetap bisa menunjukkan eksistensinya… produktif dari rumah. Keren..


Maafkan yaaa ada spoilernya dikit 😂👌


Filemnya bagus relate dengan kehidupan ibu muda…. ada banyak pelajaran yang Bibuk ambil dari filem ini bahwa


Ibu itu tonggaknya… kalo dia bahagia ya semua akan bahagia. Inget banget kata Bu Septi dan ini Bibuk terapin sampai sekarang… intinya 'Panjangkan durasi rutinitas yang kita sukai dan singkatkan waktu pada hal yang tak disukai tapi tetap harus dijalankan karena tidak ada pilihan lain'  Ini sumpah ampuh banget untuk ngatur mood seharian dengan rutinitas yang sama setiap harinya… misal nih Bibuk kurang suka nyuci, maka jam nyuci Bibuk perpendek 3 hari sekali cuma satu jam. Atau hari ini lagi gak mood masak ya masaknya agak siangan… sarapan yang simpel-simpel aja. kalo lagi akas yaaa subuh udah beres semua 😂


Ibu itu harus peduli dengan kesehatan diri juga 'Ibu itu memang kuat… bukan gak pernah sakit, tapi memang gak dirasakno …. karena kalau tidak yaaa semua terbengkalai' tapi kalo capek dan stressnya ditumpuk terus yaaa akan jadi boom waktu. Bibuk ngerasain banget ini sepeninggal Ibuk. Elakukan semua tugas domestik sendiri..  Nyiapin keperluan abah yang perfeksionis dan harus tepat waktu disambi ngurus rumah, suami, dan anak..  solusinyaa ya komunikasi ke partner.. bahwa kita butuh me time… titip anak sebentar hehe


Komunikasi ini memang penting banget sih… dengan orang terdekat. Sekedar ngobrol santai… kalo ada uneg-uneg sampaikan. Biar kewarasan tetap terjaga. Pun kisah masa lalu… kadang kita perlu tau luggage (pengalaman, pola asuh) pasangan itu seperti apa. Gantian jadi pendengar yang baik… apalagi perempuan kadang cuma pengen didengar keluh kesahnya aja kok… *ini bibuk sih wkwkwk


Dan menurutku, penting banget juga setiap individu memahami tentang mental health. Jadi peka dan tau apa yang harus dilakukan saat ada orang sekitar yang mengalami gejala depresi misalnya.


Terakhir dan paling utama… terus mendekatkan diri ke Allah subhanahu wata'ala.. sebagai muslim mengimani bahwa setiap orang pasti menemui kesulitan dan kesedihannya masing-masing… tinggal kitanya aja yang legowo nerima takdir.. Yakin dari setiap kisah, Allah pasti berikan pelajaran… Allah naikkan derajat.. Allah menguji sabar dan ikhlas hambanya... dan setiap kesedihan akan digilir dengan kebahagiaan. Bibuk pun masih berusaha di poin ini...


Semangat para perempuan tangguh 💪😍

Komentar