Langsung ke konten utama

STRESS ITU NORMAL | INSIGHT BUKU LOVING THE WOUNDED SOUL

Sudah tiga minggu semenjak malam tahun baru, malam dimana aku nangis kejer. Trauma masa lalu ini kenapa datang terus sih? Semua manusia pasti pernah salah, akupun.. tapi kenapa aku gak terima dihadapkan dengan kesalahan orang lain?

Kenapa aku gak bisa ngertiin dan kurang kontrol akan diri sendiri? Aku tadi ngapain yaa kok bisa disini? sampai pada titik ini aku mulai melabeli diri 'Kayaknya aku depresi deh…Mentalku sedang gak baik-baik aja'


Suami pun jadi tempat pertama menumpahkan semua emosi dan unek-unek. Saran Beliau yaaa coba untuk menerima, mecintai, memaafkan dan berterima kasih ke diri sendiri. Aku bisa ngerti dan setuju akan 4 hal itu.… tapi kan semua itu ada prosesnya. Nah ini gimana?? aku butuh support… kurang puas dengan jawabannya… sambil nabung untuk bisa konsul ke ahli psikolog (asli terkedjoet melihat PL konsultasi psikolog online), akhirnya mencari bacaan seputar mental health dan nemulah buku Loving The Wounded Soul karya Regis Machdy.


Disini aku akan ngeshare bagaimana prosesku mengenali diri melalui buku ini, apakah beneran aku depresi? atau cuma lelah, sedih, stress? InsyaAllah akan ada beberapa part nantinya, kita bahas tentang stress dulu.


Stress sendiri merupakan reaksi tubuh/pikiran/perasaan (negatif: marah, panik, grogi, frustasi) dari musibah atau hal yang tak sesuai ekspektasi. Penyebab terjadi stress ini disebut stressor.


Misalnya kala itu pemerintah memutuskan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat.


Hampir semua orang dari berbagai kalangan mengalami stress itu. Dampak besar dirasakan kaum ekonomi menengah kebawah. Saya ambil contoh penjual warung pinggir jalan. Ia memiliki 3 anak sekolah dirumah, harus menfasilitasi gadget… juga melakukan pendampingan. Merasakan ribetnya model pembelajaran baru membuat orang tua kelabakan. Ditambah warung sebagai usaha utama (dan mungkin satu-satunya) mereka harus tutup dan belum pasti kapan buka karena ada perpanjangan PPKM berkala. Belum lagi harus putar otak untuk bisa makan dan mungkin punya beban cicilan. Reaksi dari menumpuknya stressor ini adalah tubuh akan melepas hormon kortisol (hormon stress). 


Note: kita yang bukan ahli psikolog gak bisa ngejudge stressor sebagai "Walah ngunu tok ae" atau membandingkan stress orang satu dengan lainnya. 


Nah.. stress ini ada yang membawa dampak poisitif (eustress) dan membawa dampak negatif (distress)


Contoh kaitannya dengan stressor diatas. Setelah memikirkan banyak hal, ada yang coba jualan online atau jastip belanja dadakan. Penghasilan perlahan pulih kembali. maka tubuh lebih banyak menghasil hormon serotonin (hormon bahagia) dan hormon kortisol perlahan menurun. 


Lain cerita bagi orang yang mungkin keterbatasan ekonomi? akan makin ngenes.. anak sekolah harus ada fasilitas gadget.. akhirnya memutuslan untuk ambil kredit karena usaha utama masih tutup. Terayu iming-iming hutang online yang prosesnya begitu muda tanpa memperhitungkan besarnya bunga. Maka hutang akan terus membengkak. Stress semakin tinggi hingga ada yang memutuskan untuk  bunuh diri.


Inilah alasan kenapa kita harus paham dan peka pada diri sendiri dan orang disekitar kita. 


Dalam buku Loving The Wounded Soul, Regis Machdy juga memaparkan ciri orang mengalami stress yang terlihat pada pikiran, perasaan, tubuh, dan perilaku.

  1. Pikirannya mudah lupa, sulit konsentrasi, sulit mengambil keputusan, banyak berpikir negatif

  2. Mudah marah, tersinggung, cemas, sedih

  3. Tubuh mudah lelah, Sakit kepala, otot leher bahu tegang, sistem imun menurun, asam lambung naik

  4. Dan yang terlihat dari perilaku bicara nada tinggi, insomnia, perubahan pola makan


Semua orang pasti pernah mengalami stress… itu hal yang wajar dan normal. Stress juga bisa mengubah kita menjadi pribadi yang lebih baik, lebih tangguh. Ketika merasa penat cerita ke orang sekitar.. jika tidak bisa atau tidak ada orang yang mengerti tuangkan dalam tulisan dalam doa. 


Dalam Islam, stressor ini bisa diartikan sebagai cobaan dan ujian. Satu hal yang bisa bikin aku kembali sadar (setelah berjam-jam nangis) ya ini, yakin bahwa semua yang terjadi adalah ujian dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang pasti bisa kita lewati. Mungkin juga peringatan sebelum kita jatuh lebih dalam. Keduanya bermakna Allah masih sayang pada hamba-Nya.


Mari menilik beberapa ayat Al Qur'an yang membahas tentang ujian dan cara mengatasinya 😊


Stressor/Ujian datangnya dari Allah


“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. (Qs. Al Anbiya : 35)


"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (Qs. Al Baqarah : 155)


Yang harus dilakukan : Mengucap innalillahi waina ilaihi roji'un, Sabar, Shalat, Do'a 


"Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.." (Qs. Al Baqarah: 153).


"..... Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun" (Qs. Al Baqarah: 155-156).


"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir". (Qs. Al Baqarah: 286).


"Dan Tuhanmu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu………" (Qs. Ghafir: 60).


Meyakini janji Allah bahwa setelah kesulitan pasti ada kemudaham


"Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan." (QS. Al-Insyirah: 5-6).


Peka terhadap reaksi diri dalam menghadapi stressor. Karena ketika kita paham dan mampu mengenali diri sendiri tentu akan lebih mudah mengantisipasi sebelum menjadi parah, depresi.


Yuk lebih aware lagi tentang mental health untuk diri dan orang sekitar 🤗

Komentar