Balik lagi dengan kelanjutan Kisah Hakim Shin Eunseok dalam Drakor Juvenile Justice. Drama ini ditayangkan 10 episode sekaligus di Netfix. Suka deh... Gak perlu nunggu berminggu-minggu ngobati penasaran.
Sangat direkomendasikan sebagai tontonan keluarga dan bahan diskusi kriminalitas remaja. Insight yang Bibuk dapat dari episode 1-5 bisa dibaca disini Drakor Juvenile Justice Reminder Untuk Orang Tua Part 1 (EP 1-5)
Episode Enam dan Tujuh
Kali ini negeri dihebohkan dengan kasus kebocoran soal ujian di SMA Moonkwang yang melibatkan anak-anak dari petinggi negara, DPR, konglomerat, dokter, dan ahli hukum.
Ini menjadi kasus terakhir yang akan dipimpin oleh Hakim ketua Kang. Ia memutuskan resign untuk mencalonkan diri sebagai anggota DPR. Langkah ini diambil sebagai jalan untuk merevisi UU Sistem Peradilan Pidana Anak. Ia beranggapan bahwa harusnya undang-undang itu untuk mengedukasi dan memberikan perubahan pada mantan kriminal remaja ke arah yang baik. Bukan sekedar hukuman.
Hakim Ketua Kang dipercaya sebagai hakim paling adil dan jujur. Naasnya anak Hakim Ketua Kang, Kang Sin U, terlibat didalam kasus kebocoran soal tersebut. Tentu saja tanpa sepengetahuan sang ayah. Bukan tanpa sebab, tekanan nama besar sang ayah juga persaingan masuk universitas negeri yang ketat membuatnya stress hingga kesusahan belajar. Hakim Kang pun tanpa sadar sering membandingkan Kang Sin U dengan adiknya yang lebih pintar.
Sayangnya, Hakim Shim mengetahui itu dan melakukan penyelidikan sendiri. Buntutnya, posisi Hakim Ketua Kang terpojokkan. Di satu sisi ia ingin menutupi kasus ini agar mulus mencalonkan diri menjadi anggota DPR. Disisi lain Ia ingin jujur agar bisa adil memberikan vonis pada semua pihak yang terlibat, termasuk sang anak.
Banyak aspek yang menyebabkan adanya kecurangan ini. Aturan pemerintah, sistem pendidikan sekolah, sistem pendaftaran kampus orang tua yang punya ekspektasi tinggi, dan budaya belajar yang ada di masyarakat jaman now.
Masalah ini tak beres hanya dengan menyalahkan mereka (anak-anak yang terlibat kasus), ini masalah ego orang dewasa yang membuat anak menderita.
Apa yang menimpa keluarga Hakim Ketua Kang bisa jadi pelajaran bahwa
- Memfasilitasi itu harus, tapi juga kudu diimbangi dengan memotivasi, memahami, dan membimbing sang anak.
- Tidak membanding-bandingkan anak dengan saudara, atau orang lain. Sayangnya sebagian orang tua melakukan itu dengan alasan 'memotivasi'. Membandingkan boleh, tapi dengan dirinya yabg dulu.
- Luangkan waktu untuk ngobrol bareng, bermain bareng, belajar bareng keluarga
- Mengapresiasi setiap usaha anak, sekecil apapun.
Episode Delapan
Bercerita tentang mantan kriminalitas anak yang sudah bebas dan berjuang masuk akademi kepolisian. Tapi, kini Ia terbaring di rumah sakit, dengan kondisi vegetatif akibat kecelakaan.
Menyewa mobil rental, mengemudi dengan sim palsu, menabrak pemotor laki-laki pengantar makanan hingga meninggal itulah yang didakwahkan padanya. Apakah faktanya begitu?
Sungguh disayangkan memang seberat apapun hukuman tak akan pernah adil bagi para korbannya. Jika pelaku adalah anak orang kaya, maka orang tua lebih memilih mengeluarkan banyak uang agar supaya anak dibebaskan atau hukuman diperingan.
Membela anak yang jelas salah hanya akan membuatnya semakin bertindak keji dan menyepelekan hukum dikemudian hari.
Episode Sembilan dan Sepuluh
Mencari dalang dibalik kasus pemerkosaan. Yang ternyata adalah dua anak laki-laki yang dulunya mencelakai (tanpa sengaja) anak hakim Shim Eunsuk hingga tewas. Kini mereka tumbuh dewasa dan memilih jalan yag salah. penipuan, penganiayaan, prostitusi, pemerkosaan.
Berawal dari adanya masalah didalam rumah, lingkungan diluar sana yang menyuguhkan kebebasan dan segala hal menyenangkan. Maka rumah bukan lagi temoat yang nyaman untuk pulang. Anak-anak yang kabur dari rumah berkumpul membuat geng, untuk bisa bertahan tentu butuh uang, paling cepat adalah prostitusi.
Putusan hakim dalam memberikan hukuman juga memberikan andil dalam perubahan sikap anak dikemuan hari
Tiga episode terakhir memang tak terlalu menyorot latar belakang keluarga pelaku kriminal, namun lebih difokuskan pada vonis hukum yang akan dijatuhkan.
Selama 10 episode ini, Bibuk tersadar bahwa it takes a village to rise a child. Dan Hakim shim juga mengatakan ini lho di akhir episode. Gak cuma orang tua aja yang berperan dalam pengasuhan anak.. lingkungan juga berpengaruh besar.
Bagaimana menciptakan lingkungan yang baik untuk anak? itu diluar kuasa kita. Tapi bisa kita mulai dari rumah. Dimulai dari kesepakatan kedua orang tua dalam merumuskan tujuan, visi, misi keluarga kemudian saling bekerjasama menjalankan prosesnya. Lalu berkompromi dengan keluarga besar.
Bibuk posting ini sebagai reminder orang tua, karena kita lah yang paling dekat dengan anak. Yang berkewajiban mengawasi dan mengarahkan. Kriminalitas remaja menjadi kekhawatiran tersendiri. Sudah cukup dekat nggak sih dengan anak kita?? Sudah cukupkah kita membekalinya??
Semakin kesini Bibuk jadi pilah-pilih tontonan yang banyak pelajarannya. Mungkin karena dah jadi makemak dan waktu untuk leyeh-leyeh terbatas wkwkwk dulu tuh hampir semua drama on going di ikuti loh… tiap hari ada tiga sampai empat drama. ngunu yaaa kober ae🤣
Komentar
Posting Komentar