소년심판 / Juvenile Justice, drama korea bertema kriminalitas remaja dari Netflix yang baru saja dirilis akhir Februari lalu. Series ini menyuguhkan beragam kasus yang real ada ditengah masyarakat kita. Tak hanya wawasan akan hukum namun juga banyak pelajaran bagi orang tua dalam membersamai sekaligus aware akan kesehatan mental anak.
Tokoh utama dalam drama ini adalah Shim Eun Seok, seorang Hakim Divisi Pidana Anak. Ia adalah perempuan tangguh, tegas, dan intelegen. Julukan 'Hakim Maksimal' disematkan padanya karena kinerjanya yang optimal dan sering menjatuhkan vonis maksimal. Bukan tanpa alasan, bagi Shim Eunseok hukuman ringan tak memberikan efek jera pada anak, mereka justru akan menyepelekan dan mengulangi kesalahannya lagi.
Faktanya, semakin kesini kejahatan yang dilakukan oleh anak kian brutal dan sadis. Sedangkan pemberian hukuman dibatasi UU Sistem Peradilan Anak. Selain pembinaan oleh Lembaga Pembinaan Khusus Anak, kehadiran dan perhatian orang tualah yang paling utama dibutuhkan untuk mengubah perilaku anak-anak mereka.
Kasus anak sudah bukan perkara pribadi, kini. masyarakat dan pemerintah harus ikut turun tangan -Hakim Ketua Kang
Di Episode Satu dan Dua
Kasus pertama yang ditangani adalah pembunuhan mutilasi anak usia 8 tahun yang dilakukan oleh dua remaja berusia 13 dan 14 tahun. Pelaku dan korban tak saling mengenal bahkan tak ada motif dendam. Tapi bagaimana bisa mereka tega melakukan itu? Tonton saja dramanya hehe.. recommended banget sebagai pembrlajaran bagi remaja dan orang tua.
Mari kita lihat latar belakang pelaku:
- Pelaku utama berusia 14 tahun, perempuan. Ia didiagnosis memiliki gangguan perilaku depresif, neurastenia, dan gangguan delusi persisten. Ia berasal dari keluarga kaya. Ibunya merupakan owner butik ternama dan ayahnya seorang pembisnis luar negeri. Selama proses hukum di pengadilan, kedua orang tua tak pernah hadir dengan alasan pekerjaan.
- Pelaku kedua adalah anak laki-laki berusia 13 tahun. Berperan sebagai komplotan yang membantu menyembunyikan mayat korban. Ia di diagnosis skizofrenia dan sedang mengonsumsi obat. Orang tuanya bercerai dan Ia tinggal bersama ibu yang sibuk bekerja sebagai pengajar les. Rumahnya menjadi TKP. Masalah ekonomi membuat sang Ibu banyak mengambil jam mengajar hingga sering meninggalkan anaknya di rumah sendirian. Selama pesidangan, sang ibu terus membela anaknya. Mengatakan anaknya tak mungkin melakukan itu, atau jika Ia melakukannya, maka itu bukan atas kehendaknya. Bahkan sang Ibu tak meminta maaf ke keluarga korban yang mana tetangganya sendiri. Ia tak memberikan contoh yang baik untuk anak.
- Kedua pelaku kenal di warnet game. Yang mana warnetnya pun melanggar aturan. Membolehkan anak dibawah umur bermain diatas jam 10 malam.
Ini mengingatkanku akan kejadian yang hampir sama terjadi di dekat sini, tahun lalu. Kota dibuat gempar. Di wilayah yang mendapat julukan kota santri ini terjadi pembunuhan sadis dilakukan oleh dua remaja. Mayat dibuang di kubangan air yang ada di bukit. Bibuk gak sanggup menceritakan detailnya. Lalu ada pencurian yang dilakukan gerombolan remaja hingga membunuh sang pemilik rumah, yang mengejutkan mereka masih sempat mendandani dan membersikan jejak kejahatan.
"Sifat asli seseorang muncul saat keadaan genting. Maka itu, manusia sangatlah keji."- Hakim Shim Eunseok
Kok bisa? Kenapa mereka setega itu? Siapakah memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan karakter dan perubahan sikap anak, Apakah orang tua? teman? akses gadget? Dalam kasus ini, kedua pelaku memang dalam konsultasi dengan psikolog karena mental yang tak stabil. Bagaimana dengan disini? konsultasi dengan psikiater dianggap hal tabu.
Sebagai orang tua, Bibuk belajar banyak dari kasus ini :
- Lebih bertangung jawab pada amanah yang Allah berikan.
- Menjadi teladan akhlak baik anak.
- Aware akan kesehatan mental keluarga
- Menyediakan waktu untuk anak semaksimal mungkin.
- Selalu ada, memantau anak, mengenal circle pertemanannya tanpa menganggu privasinya.
- Disiplin
Di akhir kasus pertama, Hakim Shim memberi kesimpulan bahwa "Anak tidak akan berubah jika orang tua tidak berusaha" - Hakim Shim Eunseok
Pada Episode Ketiga
Korban merupakan mantan kriminal remaja, kasus pencurian dan prostitusi. Usianya 17 tahun. Orang tuanya bercerai. Ia tinggal bersama kakek dan nenek dari ayahnya. Sekarang kakeknya menjalani perawatan di Rumah Sakit karena dimensia sedangkan nenek sakit-sakitan. Mau tak mau ia harus menjadi tulang punggung keluarga.
Ayah Yuri adalah orang yang ringan tangan. Yuri tak bisa melapor karena neneknya selalu minta sang cucu memaklumi. Nenek tak tega jika anaknya (ayah yuri) masuk penjara. Makanya Yuri selalu berpindah tempat untuk menghindari ayahnya.
KDRT ayahnya dianggap sebagai cara mendidik dan mendisiplinkan. Dan ternyata setelah sidang berjalan baru terungkap jika ayahnya melakukan hal tersebut karena meniru cara didik orang tuanya dulu.
Sebagai orang tumbuh dengan luka masa lalu, ada kekhawatiran jika diri ini kehilangan kontrol emosi yang akan meninggalkan bekas luka pada anakku. Jangan sampek Bibuk salah dalam mendidik anak. Jangan sampai meninggalkan trauma yang bisa mempengaruhi tumbuh kembangnya bahkan menurukan ke anak nya nanti.
Dari drama ini terungkap bahwa dari seluruh kasus anak, sekitar 1% merupakan penganiayaan berat yang sampai masuk berita, 15% kekerasan di sekolah, dan sisanya adalah kekerasan anak yang disebabkan oleh kemiskinan, KDRT, dan keretakan rumah tangga.
Presentasinya bisa jadi kurang tepat, tapi realitanya memang seperti itu. Banyak kasus KDRT yang tak dilaporkan. Tetangga yang tahu akan adanya KDRT pun memilih diam dengan dalih tak mau ikut campur terlalu jauh. Orang tua bersikeras itulah cara tepat dalam mendidik anak mereka yang "bandel". "Dia anakku, aku yang lebih tau…." Apakah memang mereka bandel?? Ataukah kita yang tak mampu mengendalikan emosi? Edukasi tentang parenting banyak digaungkan. Namun, bagaimana dengan psikologi orang tua? Ia juga korban dari kejahatan masa lalu yang tanpa sadar memberi luka pada anaknya kini.
Anak yang menderita karena KDRT tidak pernah tumbuh dewasa. Sepuluh tahun? Dua puluh tahun? hanya waktu yang berlalu. Namun, anak itu terperangkap di masa lalu. -Hakim Cha Taeju
Pesan Hakim Shim pada Yuri di akhir persidangan begitu menyentuh
"Tak ada hidup bagaikan dongeng di dunia ini. Aku bisa menjaminnya dari pengalaman hidupku. Semua bergantung pada kemampuan untuk bertahan sampai batas masing-masing. Karena itulah disekitar kita ada pengadilan, kepolisian, dan orang yang mencari nafkah sepertiku. Jangan bersikap tak sopan melawan orang tua. Jangan pula kau bicara tak sopan hanya karena kesal. Jangan biarkan emosi menguasai perkataanmu. Beri salam terlebih dahulu kepada orang tua. Meski hidup ini pahit, tetaplah tersenyum. Maka, kabahagiaan akan datang sendiri. Kau hebat.. telah kuat bertahan."
Beberapa hal yang perlu di highlight dari kasus ini adalah
- Kekerasan fisik maupun verbal jelas salah. Itu bukan cara mendidik melainkan menghancurkan mental anak.
- Kenali diri sendiri dulu, lalu belajar bagaimana mengelola emosi, bagaimana menyembuhkan luka masa lalu, bagaimana menjadi orang tua yang seharusnya
- Mandiri dan bijak financial, jangan terlalu bergantung pada keluarga. Apalagi anak.
- Dalam perceraian, Anak adalah korbannya. Ambil pilihan yang membuat bahagia semuanya termasuk diri sendiri.
Perlindungan dan perhatian terhadap anak biasanya lemah bila lingkungannya lemah. -Hakim Ketua Kang
Episode Empat dan Lima
Terjadi keriuhan di pusat rehabilitasi anak pureum tepat di hari sidag oleh pengadilan. Pendiri sekaligus pengelolanya merupakan tutor dan penyuluh anak terkenal, Bu O Seonja. Ada tujuh remaja yang tinggal di tempat rehabilitasi ini. Semuanya memiliki latar belakang keluarga yang kurang baik. Masalah besar terjadi berawal dari sang anak kandung yang melaporkan adanya perundungan dan praktek korupsi. Apakah benar?? Duh ku takut spoiler deh hahaha..
"Anak-anak yang terluka karena keluarga akan menganiaya diri sendiri, dengan cara melakukan kejahatan yang tak biasa dilakukan atau berteman dengan anak nakal. Mereka juga tahu bahwa itu tidak benar, kendati tetap melakukannya. Berharap penganiayaan dan penderitaan diri mereka bisa turut melukai keluarganya. Mereka minta diperhatikan, sedang mengutarakan kenestapaan, dan minta dipahami. Biasanya awal dari kenalakan adalah keluarga." - Bu O Seonja
Inilah jawaban dari kenapa sih kok anak ini bandel banget, suka berontak, gak bisa dibilangin. Mungkin dia ingin diperhatikan. Hanya saja mereka memilih cara yang keliru.
Persidangan ditutup dengan pernyataan dari Hakim Shim Eunseok "Memang benar keluarga dan lingkungan mempengaruhi anak, tapi yang memilih untuk melakukan tindak kriminal adalah anak itu sendiri. Tak semua orang melakukan tindak kriminal hanya karena lingkungan. Maka saya perintahkan kepada semua wali disini untuk mengikuti pelatihan wali."
Yup Bibuk setuju… Membangun keluarga harmonis serta mendidik anak itu ternyata ada ilmu dan seninya. Sebuah reminder bagi saya sendiri untuk terus belajar
- Meneladani baginda Rasulullah saw dalam mendidik anak
- Mendidik anak sesuai usia sesuai jamannya
- Terus upgrade diri dari buku maupun bergabung dengan komunitas sefrekuensi
- Jika dirasa butuh bantuan pihak luar, bisa konsultasi dengan yang lebih ahli.
Komentar
Posting Komentar