"Lhe ayo sekolah.." Ajakan ini cukup sering terdengar, kala itu usia Najib masih satu tahunan. Sebenarnya tergantung orang tua saja, mulai menyekolahkan anaknya diusia berapa. Asal dengan pertimbangan yang matang tentunya. Apalagi, sekarang anak usia dua tahun sudah bisa sekolah di Posyandu (HI), kemudian SPS, lanjut PAUD, baru TK.
Tapi jujur, membayangkan Najib sekolah dari usia dua tahun kok gak relaaaa… Bibuk ingin berlama-lama main dengannya. Menguatkan bondingnya dengan keluarga dan lingkungan sekitarnya. Dan Alhamdulilah, suami mendukung penuh. Dengan syarat, kita harus memantau tumbuh kembangnya, apakah sesuai dengan anak seusianya serta memberikan stimulus yang tepat.
Biasanya, jika kedua orang tua bekerja dan tidak ada yang bantu merawat dan menemaninya bermain, maka day care menjadi pilihan. Yang perlu diperhatikan adalah atmosfer dan environmentnya. Pola asuhnya bagaimana? Metode bermainnya seperti apa? Lingkungannya bersih atau tidak?
"Sekolah aja, anak bisa ketemu sama temen seusianya. Biar bisa bersosialisasi. Gak isinan." Kami memutuskan hal ini pun dengan pertimbangan matang. Kata Bu Elly Risman
- Anak usia dini belum perlu belajar sosialisasi dengan beragam orang. Saat anak diusia dini, otak anak yag paling pesat berkembang adalah pusat perasaannya, bukan pusat berpikirnya
- Anak usia dibawah 5 tahun belum saatnya belajar sosialisasi. Ia belum bisa bermain bersama. Mereka baru bisa bermain bersama-sama. Bermain bersama-sama = bermain diwaktu dan tempat yang sama namun tidak berbagi mainan yang sama (menggunakan mainan masing-masing). Bermain bersama = bermain permainan yang membutuhkan berbagi mainan yang sama.
- Otaknya belum siap. Kita tidak pernah tahu kapan Ia kehilangan motivasi belajar. Semakin muda kita sekolahkan anak, semakin cepat pula Ia mengalami BLAST (Bored Lonely Afraid-Angry Stress Tired).
Lebih lengkapnya bisa dibaca disini, 'Jika Anak Sekolah Terlalu Dini (Elly Risman, S.Psi)'
Disini, ada slentingan kabar bahwa tingkatan sekolah balita dari Posyandu (HI) sampai PAUD kini 'diharuskan' sebelum masuk TK. Karena itu, tahun ini Bibuk mulai menyusun kurikulum 'Bermain sambil belajar Najib' juga merapikan jurnal dan portofolionya. Kelak, selain untuk kenangan buat Najib juga semoga bisa jadi bahan pertimbangan agar anak bisa lolos masuk TK.
Alhamdulillah awal Maret lalu, Bibuk berkesempatan mengikuti zoominar @sharingibudananak bersama Ami @jayaninghartami mengupas tuntas Bagaimana Cara Meningkatkan Minat Belajar Anak dan Membuat Kurikulum di Rumah.
Menumbuhkan Minat Belajar Anak
Pada dasarnya setiap anak memiliki hasrat untuk belajar. Hasrat ini merupakan bawaan lahir. Lihat saja pada anak bayi, mereka tak kenal kata menyerah. Jika gagal maka coba lagi terus hingga berhasil. Contohnya bayi yang belajar berjalan, saat jatuh mereka akan berdiri lagi, mencoba lagi. Mereka juga suka mengeksplor benda sekitarnya.
Ada tiga hal yang diperlukan dalam menumbuhkan minat belajar anak.
1. Atmosfer
Menciptakan lingkungan yang sesuai dengan value keluarga. Misal lingkungan yang suka baca buku.
2. Membangun kebiasaan anak
Memberikan contoh akhlak yang baik dan melibatkan anak didalamnya. Bukan sekedar menunjukkan kebiasaan beberes tempat tidur tapi juga memberikan kesempatan anak merapikan kamar tidurnya sendiri. Dari situ anak akan terbiasa dan mampu (contoh dalam hal belajar kemandirian)
3. Suplai inspirasi
Mengisi pikiran anak dengan ide-ide besar, akan mencegahnya untuk terbawa ke hal remeh gak penting. Bisa dengan mengenalkan cerita nabi, tokoh inspriratif muslim, dan lainnya.
Membuat Kurikulum di Rumah
Menyusun kurikulum tidak bisa asal ikut-ikutan. Perumusan didasarkan pada apa yang menjadi tujuan dari pendidikan anak. Apa saja tujuannya?
- Perlu ijazah atau tidak. Kalau perlu, maka kita harus berafiliasi dengan lembaga yang mengeluarkan ijazah. Misalnya kelas online, atau seperti sekolah biasa, hanya saja belajar di rumah, jadi tetap ada sistem penilaian dari sekolah.
- Metode yang dipilih, apakah kurikulum nasional, kurikulum luar, montessori atau yang lainnya.
- Goal terdekat yang ingin dicapai beserta alasannya
- Menentukan aktivitas belajar yang sesuai dengan tingkat perkembangan fisik dan psikologisnya.
Tahapan dalam menyusun kurikulum di rumah
1. Discover
Menemukan prinsip, nilai, tujuan dalam keluarga. Jadikan itu sebagai pertimbangan dalam menentukan pendidikan anak.
2. Create
Mencari tahu perkembangan anak sesuai usianya. Lalu merancang aktivitas belajar yang sesuai.
3. Evaluate
Dalam pelaksanannya, gak semua yang sudah kita rancang berjalan dengan lancar. Pasti akan ada trial error. Ada yang mungkin harus diubah, digeser, bahkan diulang-ulang. Nikmati saja prosesnya.
Menyusun kurikulum belajar dirumah berdasarkan
Mengapa anak perlu mempelajarinya?
Misalnya :
- Anak perlu kemandirian, karena itu adalah life skill yang diperlukan dimanapun berada
- Anak perlu memiliki hasrat yang besar akan membaca, karena itu adalah pondasi penting dalam pembelajaran seumur hidup
- Anak harus paham bahwa kitab suci Al-Qur'an adalah pedoman hidupnya
- Anak perlu menyerap banyak karakter baik, hikmah kehidupan, menghargai alam, kemampuan logika yang baik, toleransi terhadap perbedaan.
Apa yang perlu dipelajari oleh anak?
- Dalam hal kemandirian, anak dibiasakan untuk bertanggungjawab terhadap kepemilikannya. area rumah, memenuhi kebutuhan dasar, dsb
- Anak perlu tau asiknya membaca
- Membiasakan mengaji, menghafal, dan memahami maknanya
- Berkisah sejarah agar dapat mempelajari hikmah. Tumbuh respect terhadap alam dengan belajar sains. Serta mengasah logika lewat matematika.
Bagaimana cara anak mempelajarinya?
- Pembiasaan kegiatan yang baik
- Menyediakan buku-buku dan membacakannya secara rutin
- Merutinkan kegiatan mengaji dan menghafal bersama orang tua, untuk memahami makna bisa dengan ustadz/ustadzah
- Belajar sejarah bisa dari buku atau media lain, sains dengan nature journaling, logika dengan penalaran matematika
Pakem dalam menyusun kurikulum di rumah
1. Variatif
Merancang kegiatan yang bervariasi dan setiap harinya memberikan stimulus beragam
2. Keep it short
Waktu belajar pendek gapapa selama anak fokus. itu lebih baik dari pada lama tapi anak gak fokus
3. Children are born persons
Menghargai karakter dan pilihan anak
4. Be flexible
Menikmati setiap prosesnya dan tidak ragu melakukan penyesuaian jika diperlukan
Alhamdulillah dari kelas ini, Sekarang Bibuk ada gambaran mau mulai dari mana. Sudah didiskusikan juga dengan suami. Kelas-kelas seperti ini sangat membantu sekali untuk kami para Ibu baru yang haus akan ilmu. Yang gak mau salah mengambil langkah dalam membersamai dan mendidik amanah yang Allah Subhanahu Wa Ta'ala berikan.
Ibu adalah salah satu peran perempuan yang tidak pernah selesai Karena ibulah menjadi sumber dari peradaban baru Awal menjadi ibu dengan tahun ini menjadi ibu pasti akan berbeda Dua tahun lagi lima tahun lagi ketika teman-teman menjadi seorang ibu juga mendapatkan tantangan yang berbeda Maka bersiaplah dengan tantangan itu Terus belajar Tanpa kenal kata lelah
cr :
Semua gambar diedit menggunakan canva
Quote Bu Septi copas dari FBG Kelas Bunda Sayang Batch 7
Komentar
Posting Komentar