
Tantangan menulis klip minggu ini bertema aku dan sampahku. Entah sampah beneran, sampah emosi, atau sampah lainnya.
Sampah adalah sesuatu yang sudah tidak dipakai/diinginkan lagi. Jika itu sampah beneran, akan ada pilihan mau didaur ulang atau dipendam dalam tanah. Lalu bagaimana jika sampah itu berupa kenangan? Apakah masih bisa diolah? Atau bisakah hanya dipendam?
Kenangan masa kecil itu kerap hadir.. seketika membuat mood berantakan. Bisa tiba-tiba nangis sesenggukan, dimanapun. Tentang ketidak-adilan di sekolah, tentang perlakuan teman-teman, dan masalah kedua orang tua.
Bagi orang dewasa kala itu, mungkin masa kecilku baik-baik saja. Belajar, bermain, dan cukup berprestasi. Aku bisa masuk ke sekolah yang aku inginkan.
Dilingkar pertemananku saat sekolah dasar, mungkin orang tuaku paling berumur. Abah tak lulus SMP, Ibuk tak lulus SD, apakah aku malu? Tidak, mereka tak sekolah karena ekonomi keluarga. Mereka mengalah untuk adek-adeknya. Toh keduanya tak buta huruf juga pandai matematika, sudah bisa berwirausaha hehe.. justru ku bangga mereka bisa menyekolahkan anaknya hingga sarjana.
Tapi entah kenapa bagi sebagian orang, itu menjadi alasan menyudutkanku. Pernah suatu kali, aku menjawab dengan tepat semua soal ujian multiple choice. Tapi nilaiku hanya 8. Ketika dikoreksi bersama ternyata banyak jawabanku yang benar tapi disalahkan. Aku pernah protes, tapi jawaban yang aku dapatkan dari guruku adalah “Masa’ nilaimu ngalahi nilai anak e guru. Wes sak munu ae” konyol sekali bukan?!
Lalu ketika aku dan anak guru mewakili sekolah mengikuti lomba matematika, waktu itu sudah keluar hasilnya bahwa nilaiku tertinggi. Namun guru tersebut memintaku pulang terlebih dahulu dengan berbagai alasan. Yang akhirnya aku tau, penerimaan hadiahku diwakilkan ke anaknya, yang kemudian didokumentasi dan dipampang di kantor sekolah. Omaigaaaad hahahhh tak apalah namanya juga mewakili sekolah, terserah sekolah deh
Di kelasku banyak yang anak guru, keponakannya guru, tetangganya guru wkwkwk
Lalu saat akhirussannah kelas 6, nilai ujian nasional belum keluar sehingga semua guru sepakat menggunakan patokan nilai ujian lembaga untuk menentukan peringkat (ranking di kelas). Kebetulan nilaiku saat itu tertinggi. Jadi akulah penerima piala dan piagam saat wisuda. Setelah nilai ujian nasional keluar dan ternyata nilaiku dibawah nilai anak guruku (yang biasanya memang dialah yang ranking 1) betapa menyesalnya mereka sampai terang-terangan bilang “Harusnya di akhirussannah (wisuda) kemarin bukan sampean yang mendapat piala”. Lohlohloh
Bukan soal aku yang terlalu menginginkan piala, tapi memang jika sudah kesepakatan kenapa harus bilang seperti itu.. toh aku gak dapat piala lho gakpopo apa perlu kukembalikan pialanya?! 😂
Setelah lulus sekolah dasar, aku melanjutkan ke sekolah negeri yang memang cukup kompetitif untuk bisa masuk kesana. Harus lolos tes tulis, toefl, dan sertifikat/piagam. Setelah aku diterima di sekolah favorit, istri dari salah satu guruku justru menyebar berita jika aku bisa sekolah negeri karena nyogok. Heh?! Subhanallah …
Dirumah pun aku tak selalu bahagia. Terlalu banyak orang ketiga keempat kelima dalam rumah tangga orang tuaku. Dulu, mereka sering salah paham, sering bertengkar, tak jarang ada suara bug bug bug (kalian tau kan suara apa itu). Saat-saat itulah membaca dan menulis menjadi kebahagianku.
Pernah satu kali ibuk yang kesal melemparkan kursi tepat mengenai kakiku dan aku kesakitan. Seketika itu Ibuk meminta maaf dan menangis. Aku tak kesal ataupun marah. Aku paham ibuk hanya sedang melampiaskan amarah. Ibuk juga pernah memaksaku minum banyak obat, aku tak tau obat apa, ibuk mengajak kita mati bersama. Yang aku lakukan hanya menutup mulutku rapat-rapat dan memeluknya.
Belum lagi masalah pembangunan musholla dan segala ancaman pembunuhan yang diterima keluarga.
Dulu aku menyimpan rapat-rapat cerita ini, karena kupikir aku bisa memendamnya dalam-dalam. Ternyata tidak. Itu justru membuatku menjadi insecure. Ada kalanya aku mempertanyakan “apakah aku tak layak?”
Aku pernah menceritakan traumaku ini ke kakak. Beban itu berkurang tapi masih ada rasa sakit. Kemudian aku bertemu dengan beberapa orang yang survive dengan masalah innerchild, mereka bisa berdamai dengan luka masa lalu mereka.
Aku banyak belajar tentang mengolah sampah ini. Kini setidaknya, setiap kali kenangan itu menyapa kembali, aku sudah baik-baik saja… aku masih bisa tersenyum 😊
Terahir aku mencoba mengikuti saran Mba Ghina di panggung Ceria saat di Trancity. Yaitu dengan membimbing luka masa lalunya, yang membuat ia berubah, menjadi jauh lebih baik.
- Yang paling utama adalah sabar, apresiasi, dan memaafkan. Yang kemudian dilanjut bicara dengan orang tua sejujurnya akan perasaan kita.
- Kedua tulis secara detail apa saja ketakutan yang dialami semasa kecil
- Lalu mulai bimbing luka masa lalu itu dengan treatment menemani, melindungi, menyempurnakan, melakukan hal yang tidak dilakukan tujuan utamanya untuk membahagialan diri kecil kita.
- Lakukan berulang kali, setiap hari.. biarkan jiwa dewasa ini mendekap hangat dan membahagiakan jiwa kecil yang mungkin ia akan tetap tinggal, tapi setidaknya ia sudah tak bersedih hati 🙂
Jika kamu punya sampah kenangan, pikirkan sekali lagi sebelum memutuskan untuk memendam. Karena tak semua sampah berahir baik saat dipendam. ketika sampah itu memiliki daya tekanan kuat, dipendam pun ia bisa meledak sewaktu-waktu. Ada sampah yang justru ketika kita olah dengan baik akan menjadi sesuatu yang indah dan cantik. Menjadikan diri kita lebih baik. Jika kesusahan mengolah, jangan ragu mendatangi ahli, psikolog misalnya.
Novibachri
Dan ketika kau melihat anak dengan kenangan masa lalu buruk, jangan pernah bilang “Halah… masih banyak anak dengan masalah lain yang lebih besar, gausah cengeng” maka saat itu kamu hanya menjadi toxic. Karena tentang trauma tak ada kata besar atau kecil, semua menyakitkan. Dan kekebalan mental setiap anak berbeda.
Tiada jiwa yang lahir untuk disakiti, rangkul diri kita sebagai orang tua, memberikan kasih sayang dan kehadiran yang cukup sehingga anak-anak tau bahwa dirinya tak pantas untuk disakiti.
Mba Ghina
Dan satu hal yang perlu di highlight. Seburuk apapun perlakuan yang kita terima, tetaplah menjadi baik, hormat, dan asih. Setiap kisah punya hikmah. Jadikan kedekatan dengan Allah sebagai pengokoh dikala batin berderai.
Komentar
Posting Komentar