Remahan kenangan di bulan Ramadhan, sepulang iftar di Rumah Mbah Kung, Abah ngasih challenge untuk melakukan sesuatu – hal yang wajar sebenernya, cuma sedikit ‘awkward’- Bibuk menyanggupi asal ada rewardnya “Mintak apa?” “Umroh yaaa” hwei ya kali bersuamikan Aldebaran wkwkwk tapi kala itu obrolan kita berakhir dengan mellow karena Bibuk sudah rindu dan suami juga sedih pengen kesana. Nabung yuk nabung….
Dan… begitu nyampe rumah, cek hape, buka IG, yang muncul storry dengan caption.
Orang-orang kaya bolak-balik umroh dan haji, dengan alasan selalu merindukan rumah Allah, padahal Allah dan Rasul-Nya lebih rindu dengan orang yang gemar sedekah kepada fakir miskin, anak yatim, dan orang-orang yang membutuhkan.
Jleb—— Rindu. Apakah rindu yang Bibuk rasakan ini bertepuk sebelah tangan?
Bibuk nggak akan bahas tentang orang kaya, karena kekayaan itu relatif. Haji bisa jadi cita-cita dan booster semangat untuk ibadah dan bekerja. Pun soal sedekah kita tak bisa menjudge karena tampak atau tak tampak ikhlas atau tak ikhlas itu urusan hati dan Tuhan
Tapi soal rindu, mengenaskan jika merindu sendiri. Saling merindu dan berharap akan bertemu adalah keinginan setiap insan yang hatinya tertambat pada Rabb dan Rasulnya..
Namun sudahkah kita menjadi yang dirindu? Siapakah yang pantas dirindu?
Bibuk ngobrol ke Abah (Suami) tentang hal ini, dan seperti biasanya… selalu ada insight baru yang Bibuk dapat. Abah menanggapi secara positif caption tadi.
“Ya gapapa… orang kaya berhaji, tapi kalo pandemi gini yaaaa ada cara lain untuk mengungkapkan rindu itu, dengan sedekah. Dulu ketika zaman Rasulullah saw, pernah ada sahabat yang kurang mampu dalam hal harta mengeluh iri kepada sahabat lain yang bisa berhaji. Dan Rasulullah saw memberi tahu bahwa ketika tidak mampu berhaji maka lakukan sedekah, dan sedekah banyak sekali macamnya. Bukan hanya harta. Haji itu cukup sekali. Bahkan bisa dihukumi makruh apabila ada orang kaya berhaji sedangkan di daerah tersebut ada orang yang kelaparan.”
Gini nih kalo ngobrol sama suami.. pasti dapet ilmu dan wawasan baru.
Ngomongin soal haji, sebagai muslim pasti sudah tahu betul bahwa haji merupakan rukun islam ke 5. Namun …. haji ini bisa jadi wajib, sunnah, makruh, bahkan haram. Kok bisa?
- Wajib, untuk pertama kali. Untuk memenuhi nadzar, mengqadha.
- Sunnah, untuk ke dua kali. atau berangkatnya dulu masih anak-anak, ketika dewasa mau berangkat lagi hukumnya sunnah. Karena perintah berhaji hanya sekali seumur hidup.
- Makruh, seperti yang disampaikan abah tadi. Kalo berangkat berkali-kali tapi disekitarnya masih ada orang kelaparan. Selain itu makruh ini dihukumi pada perempuan yang berangkat tanpa ijin suami.
- Haram, jika biaya dan segala kebutuhan untuk berangkat haji didapat dengan jalan yang tidak baik, mencuri, menyuap, menipu misalnya.
Dulu tuh Bibuk berpendapat kalo rindu ya ketemu, kalau sudah tiada ya ziarah ke makamnya. Kalau jauh ya terus berdoa tapi feelnya tentu beda dengan ziarah di makam langsung. Ibaratnya kita ada di tempat dan waktu yang sama cuma berbatas tanah aja gituloh. mungkin karena bibuk belum pernah ngerasain LDR lamaaa.
Tapi sekarang Bibuk lebih calm down bahwa banyak cara mengungkapkan rindu dan menuangkan cinta kepada Rasulullah saw yakni dengan bersholawat, menghaturkan pujian-pujian, do’a dan sedekah. Membaca sirah serta meneladani kemulian adab.
Komentar
Posting Komentar